KLIKFAKTA38 – LEMBUR PAKUAN, 19 Febuari 2026 – Tokoh publik sekaligus politisi Jawa Barat, Dedi Mulyadi—yang akrab disapa KDM—melontarkan kritik tajam terkait kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai belum stabil. Ia menyoroti masih tingginya angka pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sebagai cermin kegagalan pemerintah daerah dalam menciptakan kesejahteraan yang merata.
Menurut KDM, keamanan suatu daerah tidak bisa hanya dilihat dari kinerja kepolisian dalam menangkap pelaku, melainkan harus ditarik ke akar masalahnya: urusan perut.
Korelasi Perut dan Kriminalitas
Dalam pernyataannya, Dedi menekankan bahwa maraknya aksi pencurian merupakan “sinyal darurat” bahwa lapangan kerja dan akses ekonomi di tingkat akar rumput masih macet.
”Kalau di sebuah provinsi maling motor masih berkeliaran di mana-mana, itu tandanya ekonomi belum baik. Gubernur bisa dibilang gagal kalau rakyatnya masih merasa terdesak untuk jadi maling demi menyambung hidup,” ujar KDM saat ditemui di kediamannya, Jumat [20/2].
Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin daerah tidak boleh hanya bangga dengan angka makro ekonomi di atas kertas jika realitanya masyarakat kecil masih berjibaku dengan kemiskinan ekstrem yang memicu tindak kriminal.
Baca juga: Polemik MBG di Bulan Ramadan: Antara Target Nasional dan Dilema Beban Guru
Poin Utama Kritik KDM:
Indikator Keberhasilan: Keberhasilan seorang Gubernur bukan diukur dari gedung-gedung tinggi, melainkan dari seberapa aman lingkungan warga dari pencurian.
Bukan Sekadar Penegakan Hukum: Polisi bertugas menangkap, tapi Gubernur bertugas mencegah orang menjadi pencuri melalui kebijakan ekonomi.
Penyediaan Lapangan Kerja: KDM mendesak adanya transformasi kebijakan yang lebih menyentuh sektor informal agar pemuda di desa-desa memiliki kesibukan produktif.
Solusi Berbasis Kewilayahan
KDM menawarkan visi di mana pembangunan harus berbasis pada penguatan ekonomi desa. Menurutnya, jika integrasi antara industri dan tenaga kerja lokal berjalan baik, maka angka kriminalitas akan menurun dengan sendirinya.
”Pemimpin itu jangan cuma duduk di kantor. Cek ke gang-gang, cek kenapa motor warga hilang terus. Itu suara rintihan rakyat yang ekonominya sedang sulit,” pungkasnya.
Analisis Singkat:
Pernyataan ini seolah menjadi “tamparan” bagi inkumben atau pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga pada ketahanan ekonomi mandiri di tingkat keluarga.














