‎Ekonom Usul Pangkas Operasional Makan Bergizi Jadi 5 Hari, Potensi Hemat Capai Rp40 Triliun

banner 120x600

KLIKFAKTA38 – JAKARTA, 27 Maret 2026 – Diskusi mengenai efisiensi anggaran program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), memasuki babak baru. Ekonom senior, Raden Pardede, melontarkan wacana untuk memangkas hari operasional program dari semula tujuh hari menjadi lima hari kerja. Langkah ini dinilai mampu menghemat anggaran negara hingga Rp40 triliun per tahun.

‎Optimalisasi Anggaran di Tengah Tekanan Fiskal

‎Dalam keterangannya kepada awak media, Raden Pardede menekankan bahwa penyesuaian ini bertujuan agar beban fiskal negara tetap terjaga tanpa menghilangkan esensi dari pemberian asupan gizi bagi siswa. Dengan membatasi program hanya pada hari sekolah (Senin-Jumat), pemerintah dapat mengalokasikan dana cadangan untuk sektor produktif lainnya.

‎”Jika kita fokus pada lima hari sekolah saja, hitungan kasarnya kita bisa menghemat sekitar Rp40 triliun. Angka ini sangat signifikan untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah ambang batas yang aman,” ujar Raden dalam sebuah diskusi kebijakan publik di Jakarta.

‎Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas Hari

‎Wacana ini muncul di tengah kekhawatiran publik mengenai membengkaknya biaya logistik dan distribusi makanan ke wilayah pelosok. Beberapa poin utama yang disoroti dalam usulan ini antara lain:

‎Efisiensi Distribusi: Mempermudah kontrol kualitas makanan karena operasional mengikuti kalender akademik sekolah.

‎Pemberdayaan UMKM: Mengurangi beban kerja kantin atau vendor lokal agar lebih fokus menyajikan menu bergizi tinggi dalam lima hari kerja.

‎Fleksibilitas Anggaran: Dana yang dihemat dapat dialihkan untuk perbaikan infrastruktur dapur umum di daerah tertinggal.

Baca juga: Walikota Bogor Berang, PKL Trotoar Bandel Kena Semprot: “Kurang Ajar, Sudah 4 Kali Saya ke Sini!”

‎Respon Pemerintah dan Pengamat

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak Badan Gizi Nasional masih melakukan kajian mendalam terkait skema operasional yang paling ideal. Beberapa pengamat pendidikan setuju dengan langkah ini, mengingat pada hari Sabtu dan Minggu, pengawasan asupan gizi biasanya kembali menjadi tanggung jawab penuh orang tua di rumah.

‎Namun, tantangan besar tetap ada pada pemastian bahwa asupan gizi anak tidak “anjlok” saat hari libur sekolah, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi rentan.

‎Analisis Redaksi: Langkah penghematan ini dipandang sebagai jalan tengah yang rasional untuk memastikan keberlangsungan program jangka panjang tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro Indonesia di tahun 2026

.

 

Penulis: Yuyun IriyantiEditor: Hengki Revandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *