Menu

Otomatis
FAKTA TERKINI

Opini

Mengapa Feature Journalism Tetap Dibutuhkan?

badge-check

Ilustrasi Generate AI Perbesar

Ilustrasi Generate AI

klikfakta38 – Ada satu hal yang jarang kita sadari, dari sekian banyak berita yang kita lahap setiap hari, hanya segelintir yang benar-benar menempel di kepala lebih dari semalam. Bukan berita breaking news yang numpang lewat di linimasa, tapi cerita yang bikin Anda berhenti sejenak, menghela napas, lalu bertanya pada diri sendiri: “Ini kok kayak hidup gue juga, ya?”

Itulah yang biasanya dikerjakan oleh feature journalism, jurnalisme yang tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi, tapi menuntun pembaca masuk ke dalam pengalaman orang lain, merasakan, dan akhirnya memahami.

Di tengah banjir notifikasi dan headline yang berlomba cepat, wajar kalau muncul pertanyaan: masih relevankah tulisan feature yang panjang, yang butuh waktu ditulis dan waktu dibaca? Jawabannya, menurut saya, justru semakin dibutuhkan. Bukan karena nostalgia pada jurnalisme lama, tapi karena kebutuhan manusia akan makna tidak pernah berkurang, hanya berpindah bentuk.

Berita Memberi Fakta, Feature Memberi Makna

Setiap hari kita dibombardir angka: sekian korban, sekian persen inflasi, sekian kasus baru. Angka-angka itu penting, tapi ia gampang menguap karena otak kita memang tidak dirancang untuk mengingat statistik. Yang bertahan lama justru cerita wajah, nama, dan detail kecil yang membuat sebuah peristiwa terasa nyata.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan dalam kajian jurnalisme sastrawi. Norman Sims, sejarawan literary journalism dari Amerika, pernah menjelaskan bahwa cara kerja jurnalis semasa lalu menunggu remah informasi dari pusat kekuasaan seperti gedung parlemen atau kantor polisi kini tak lagi cukup memuaskan dahaga pembaca yang ingin mengerti kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Menurutnya, reporter yang dulu terbiasa menunggu remah informasi dari pusat-pusat kekuasaan kini berhadapan dengan pembaca yang haus cerita tentang orang biasa yang sedang menjalani hidupnya, sebab fakta telanjang saja kerap tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di sekeliling mereka.

Wilayah “cerita sehari-hari yang membawa kita masuk ke kehidupan tetangga sendiri” itu dulu hanya jadi milik penulis fiksi, padahal justru di situlah pembaca sungguh-sungguh ingin diajak masuk.

Bayangkan berita tentang kenaikan harga beras. Angka inflasi bisa dilupakan besok pagi. Tapi cerita tentang ibu warung yang harus mengurangi porsi nasi bungkus demi menutup modal itu yang membekas, karena kita ikut merasakan dilema yang sama dengan yang mungkin kita alami sendiri di dapur rumah.

Menyeimbangkan Informasi dan Cerita, Bukan Memilih Salah Satunya

Ada anggapan keliru yang sering muncul seolah-olah jurnalisme harus memilih antara “memberi informasi yang dibutuhkan” atau “bercerita yang disukai pembaca”, seakan dua hal itu saling bertolak belakang. Kenyataannya tidak begitu.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua nama besar dalam kajian etika jurnalistik lewat buku The Elements of Journalism, dengan tegas membantah cara pandang itu. Mereka menyebut bahwa cara memandang keterlibatan pembaca sebagai pertentangan antara informasi dan penuturan cerita, atau antara apa yang dibutuhkan pembaca dan apa yang diinginkan pembaca, sesungguhnya adalah sebuah kekeliruan cara pandang, karena bukan begitu jurnalisme sehari-hari sebenarnya dijalankan.

Feature justru lahir dari kesadaran itu, menyampaikan fakta penting sambil membungkusnya dengan cara yang membuat orang mau membaca sampai selesai, bukan sekadar melirik judul lalu menutup tab.

Realitas kita sehari-hari pun sebenarnya berjalan seperti itu. Kita tidak pernah bercerita ke teman soal kejadian di kantor hanya dengan menyebut fakta telanjang “rapat mundur dua jam, atasan marah”.

Kita menambahkan konteks, emosi, dan detail kecil supaya cerita itu “sampai”. Feature journalism sebetulnya cuma meniru cara manusia berkomunikasi secara alami dengan narasi, bukan daftar poin.

Jurnalisme Sisi Manusiawi yang Membuat Isu Rumit Jadi Dekat

Di kampus-kampus jurnalistik Indonesia, salah satu rujukan yang sering dipakai adalah pemikiran A.S. Haris Sumadiria seorang jurnalis dan akademisi, menulis Berita dan Feature. Sumadiria menegaskan bahwa feature termasuk feature Sejarah tidak berhenti pada rekonstruksi fakta dan benda-benda semata, melainkan wajib mencakup aspek manusiawi yang selalu mampu mengundang daya simpati dan empati khalayak pembaca.

Poin ini yang membuat feature journalism tak tergantikan, terutama untuk isu-isu besar dan rumit yang sering terasa jauh dari kehidupan kita, perubahan iklim, korupsi struktural, atau krisis kesehatan mental generasi muda. Statistik saja membuat isu-isu itu terasa abstrak.

Tapi begitu ada cerita tentang petani yang gagal panen karena musim tak lagi bisa diprediksi, atau remaja yang berjuang melawan kecemasannya sendiri, isu abstrak itu tiba-tiba punya wajah. Pembaca tidak lagi hanya tahu, tapi ikut peduli dan kepedulian, bukan sekadar informasi, adalah yang biasanya mendorong orang untuk bertindak atau setidaknya berempati.

Di sinilah letak kekuatan feature yang tak akan pernah bisa direbut sepenuhnya oleh berita cepat maupun oleh algoritma yang mengejar klik. Berita cepat menjawab “apa yang terjadi”. Feature menjawab pertanyaan yang jauh lebih manusiawi “lalu, bagaimana rasanya jadi mereka?”

Selama manusia masih butuh dipahami dan memahami sesamanya dan sepertinya kebutuhan itu tidak akan pernah hilang feature journalism akan terus punya tempat, betapapun cepatnya arus informasi berubah di sekitar kita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Merdeka, Pers dan Pemerintah: Sebuah Perenungan di HUT RI ke-81

17 Agu 2026 - 02:29 WIB

Merdeka, Pers dan Pemerintah: Sebuah Perenungan di HUT RI ke-81

Mengapa Komunikasi Publik Semakin Bising?

15 Agu 2026 - 10:09 WIB

Mengapa Komunikasi Publik Semakin Bising?

Mengembalikan Jiwa Pengibaran Bendera: Dari Formalitas Menuju Penghayatan

15 Agu 2026 - 01:07 WIB

Mengembalikan Jiwa Pengibaran Bendera: Dari Formalitas Menuju Penghayatan

Filter Bubble Membatasi Cara Kita Melihat Berita

11 Agu 2026 - 16:07 WIB

Filter Bubble Membatasi Cara Kita Melihat Berita

Palestina dan Kesaksian untuk Dunia yang Diam

10 Agu 2026 - 02:18 WIB

Palestina dan Kesaksian untuk Dunia yang Diam
Trending di Headline