KLIKFAKTA38 – SUKABUMI — Wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,7 pada Minggu (11/10/2026) pukul 10.30 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa guncangan tersebut tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Berdasarkan data pemutakhiran BMKG, pusat gempa bumi (episenter) terletak pada koordinat 8,87° LS dan 106,41° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak sekitar 209 kilometer arah barat daya Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 10 kilometer.
Analisis Parameter dan Penyebab Gempa
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi dangkal ini dipicu oleh aktivitas pergeseran lempeng di dasar laut selatan Jawa.
Pihak BMKG dan pakar kebencanaan mencatat bahwa pergerakan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan geser (oblique thrust) akibat patahan di dasar laut (intraplate earthquake). Hingga berita ini diturunkan, hasil pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Dampak Guncangan dan Kondisi Lapangan
Guncangan gempa bumi dilaporkan terasa di beberapa wilayah pesisir selatan Kabupaten Sukabumi, di antaranya:
Kecamatan Surade (Skala III MMI)
Kecamatan Cibitung (Skala III MMI)
Kecamatan Tegalbuleud (Skala III MMI)
Getaran pada skala III MMI dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan-akan ada truk berat yang sedang melintas. Beberapa warga di wilayah sekitar, termasuk daerah bertingkat di Bogor dan Bandung, juga melaporkan merasakan getaran halus.
Sejauh ini tidak ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Situasi di masyarakat terpantau kondusif.
Imbauan Resmi BMKG
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau berita bohong (hoaks) yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat juga diminta untuk memeriksa kelayakan struktur bangunan masing-masing serta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat getaran sebelum kembali ke dalam rumah.
Informasi resmi perkembangan situasi kebencanaan dapat diakses secara berkala melalui saluran informasi resmi BMKG.
Yuyun Iriyanti

















