KLIKFAKTA38 – GUNUNGSITOLI, Penanganan bencana alam di Kota Gunungsitoli kembali mempertontonkan wajah buram birokrasi. Musibah longsor yang menghantam rumah Sokhizato Mendrofa alias Ama Tama Mendrofa di Dusun 6 Madula, Desa Fadoroyou, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, pada Minggu (23/8/2026) sore, kini berujung pada aksi lempar tanggung jawab antar-instansi. Hingga Sabtu (29/8/2026), korban bersama keluarganya dibiarkan terkatung-katung bertahan hidup di dalam gedung gereja tanpa satupun uluran bantuan logistik maupun evakuasi fisik.
Janji manis pengerahan alat berat yang sempat dihembuskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gunungsitoli saat meninjau lokasi pada Senin (24/8/2026) pagi menguap begitu saja. Memasuki hari ketujuh pascabencana, tak ada satu pun alat berat yang menyentuh reruntuhan rumah korban yang kini tak layak huni tersebut.
Kepala BPBD Kota Gunungsitoli, Adilman Harefa, berdalih bahwa pengiriman ekskavator (beko) terhalang oleh kondisi medan jalan yang rawan dan berisiko tinggi.
“Saat Selasa sore tim PUTR dan BPBD melakukan pengecekan medan jalan, ditemukan bahwa pemasukan alat berat di lokasi kejadian tidak memungkinkan karena medan yang sulit dan mendaki serta jalan yang sempit. Jika dipaksakan, risiko kecelakaan sangat mungkin terjadi,” ujar Adilman Harefa saat dikonfirmasi media, Rabu (26/8/2026).
Adilman mengklaim, mobilisasi alat berat besar tanpa truk pengangkut (trado) sejauh 5 kilometer berpotensi merusak jalan aspal, sementara unit beko berukuran kecil tidak dimiliki Pemkot Gunungsitoli. Pernyataan ini diamini oleh Kepala UPTD Bidang Peralatan Dinas PUTR Kota Gunungsitoli, Tawarius Marundruri.
“Kondisi peralatan atau alat berat yang dapat difungsikan saat ini hanyalah alat berat berupa beko ukuran besar. Sedangkan peralatan lain, baik beko kecil maupun loader, sedang tidak dapat difungsikan dan dalam perbaikan. Solusi terakhir hanyalah dengan melakukan tenaga manual dengan bergotong royong,” tutur Tawarius Marundruri.
Alasan teknis yang dilontarkan para pejabat daerah tersebut mendulang sanggahan keras dari pihak korban. Sokhizato Mendrofa membeberkan fakta lapangan bahwa jalur di depan rumahnya bukanlah medan terisolasi yang tak bisa dilintasi alat berat.
“Saya mengapresiasi penjelasan dan upaya yang disampaikan oleh Kepala BPBD. Namun, sebelum-sebelumnya alat berat berupa beko yang diangkut menggunakan tradonbisa melintas di depan rumah saya bulan lalu dan tidak ada kecelakaan yang terjadi. Bahkan pernah ada alat berat yang dimasukkan di desa kami melalui tetangga untuk kegiatan penggalian tanah dan bisa melewati medan jalan tersebut,” pukas Sokhizato Mendrofa.
Ketika pengerahan alat berat gagal dan opsi beralih ke kerja bakti manual, sinergi penanganan darurat justru makin tumpul. Kepala BPBD menyentil pihak kecamatan yang tak kunjung memberikan respon jadwal pelaksanaan.
“Kami sudah beberapa kali berkoordinasi dengan Camat Gunungsitoli Alo’oa, namun Camat hingga hari ini belum memberikan tanggapan kapan pelaksanaan gotong royong tersebut dilakukan. Musibah ini bukanlah tanggung jawab perseorangan, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bentuk rasa sosial dan kemanusiaan,” tegas Adilman Harefa.
Merespons tudingan tersebut, Camat Gunungsitoli Alo’oa, Bowonama Lase, justru melempar balik persoalan dengan berdalih pada keterbatasan anggaran instansinya.
“Pihak kami hanya mampu memberikan imbauan kepada warga dan menyurati instansi terkait untuk melaksanakan gotong royong. Untuk anggaran dalam pelaksanaan, kami tidak mampu berhubung dalam kondisi efisiensi anggaran,” kata Bowonama Lase, Sabtu (29/8/2026).
Bowonama menambahkan bahwa pihaknya hanya bisa berjanji menyurati pemerintah desa agar meminta warga bahu-membahu melakukan gotong royong secara mandiri.
Sikap saling tuding, kalkulasi kerusakan aspal, hingga tameng efisiensi anggaran yang dipertontonkan para pejabat publik ini jelas melukai rasa keadilan masyarakat. Di saat instansi pemerintah sibuk berdebat di balik lembaran kertas koordinasi, keluarga Sokhizato Mendrofa terpaksa terus memasak, tidur, dan menggantungkan nasibnya di dalam gedung gereja dengan peralatan seadanya. Publik kini menanti ketegasan dan kepedulian nyata dari pimpinan daerah Kota Gunungsitoli sebelum musibah kemanusiaan ini berlarut semakin dalam.
HELPIN ZEBUA














