KLIKFAKTA38 – KATHMANDU & BEIJING — Bencana alam berskala besar menerjang wilayah perbatasan pegunungan yang menghubungkan Nepal dan Wilayah Otonomi Xizang (Tibet), China. Gelombang air bah, lumpur, dan material batuan menyapu kawasan Pelabuhan Perbatasan Gyirong pada Rabu (26/8/2026) pagi, memicu krisis kemanusiaan hebat di kedua negara.
Hingga Rabu malam, tim penyelamat gabungan mengonfirmasi sedikitnya 157 orang tewas di wilayah Nepal, sementara otoritas China mengonfirmasi kematian serta menyatakan setidaknya 265 orang masih hilang di sisi perbatasan Tibet. Otoritas pariwisata Nepal melaporkan bahwa lebih dari 380 orang, termasuk ratusan wisatawan mancanegara dan pengemudi logistik, berada dalam daftar pencarian.
Detik-Detik Terjadinya Bencana
Peristiwa ini bermula sekitar pukul 10.30 waktu setempat ketika aliran deras Sungai Bhote Koshi meluap secara mendadak. Luapan air yang bercampur material lumpur tebal diduga akibat runtuhnya dinding bendungan alami atau danau glasial di kawasan hulu pegunungan. Luapan tersebut memicu tanah longsor berskala besar di kedua sisi perbatasan.
Hantaman longsoran dan banjir bandang merobohkan pemukiman warga, proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta melumpuhkan Pelabuhan Gyirong. Pelabuhan ini merupakan urat nadi perdagangan utama dan koridor ekonomi strategis antara China dan Nepal.
Dampak Kerusakan dan Korban Jiwa
Sisi China (Tibet/Xizang): Pemerintah China mengaktifkan status Tanggap Darurat Tingkat I. Longsor hebat menghancurkan akses jalan utama menuju Kota Shigatse, serta memutus total jaringan listrik dan komunikasi ke area pelabuhan. Pemantauan drone menunjukkan infrastruktur perlintasan hancur dan terisolasi.
Sisi Nepal: Kawasan permukiman dan infrastruktur jalan menuju Kathmandu tersapu luapan air. Kementerian Energi Nepal mencatat bencana ini merusak sejumlah fasilitas hidroelektrik dan memotong lebih dari 12% pasokan listrik nasional.
Operasi Penyelamatan Terhambat Akses
Pemerintah China mengerahkan ratusan personel penyelamat profesional dari China Anneng dan militer, lengkap dengan alat berat, drone pemantau, pemindai laser 3D, dan anjing pelacak. Sementara itu, Tentara Nasional Nepal dan kepolisian mengerahkan helikopter untuk mengevakuasi korban luka ke rumah sakit darurat di Kathmandu.
Meskipun demikian, tim evakuasi di lapangan menghadapi kendala berat akibat cuaca buruk, hujan deras yang terus mengguyur, dan tumpukan lumpur tebal yang menutupi jalur darat utama. Otoritas setempat mengimbau masyarakat di sepanjang aliran Sungai Trishuli hingga kawasan hilir untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi mengantisipasi potensi banjir susulan.
Abduh Hanif MR

















