KLIKFAKTA38 – Jakarta, 3 Febuari 2026 — Ketegangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat seiring eskalasi militer dan perbedaan kepentingan strategis kedua negara. Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai situasi saat ini berpotensi berkembang menjadi konflik berskala besar apabila upaya diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.
Pengamat hubungan internasional, Nasir Tamara, menilai dinamika geopolitik terbaru menunjukkan indikasi meningkatnya risiko konflik terbuka. Menurutnya, pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah memperkuat sinyal tekanan terhadap Iran. Sejumlah laporan menyebut AS telah menempatkan kapal perang, pesawat tempur, serta aset militer lainnya di sekitar wilayah Iran sebagai bagian dari strategi menghadapi ketegangan yang terus meningkat.
Selain itu, ancaman saling balas antara kedua negara semakin memperkeruh situasi. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan militer AS dapat memicu perang regional yang melibatkan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Tamara menjelaskan, konflik Iran dan AS bukan hanya persoalan militer, tetapi juga berkaitan dengan program nuklir Iran, pengaruh geopolitik di kawasan, serta persaingan kepentingan dengan sekutu masing-masing. Dalam beberapa analisis internasional, ruang kompromi antara kedua negara disebut semakin sempit karena masing-masing mempertahankan tuntutan strategis yang sulit dipertemukan.
Meski demikian, peluang diplomasi masih terbuka. Iran dan AS dilaporkan tengah menyiapkan pertemuan untuk membahas program nuklir serta stabilitas kawasan. Pemerintah Iran menyatakan kesiapan melakukan perundingan yang dianggap adil, sementara AS tetap mengombinasikan pendekatan diplomasi dengan tekanan militer.
Sejumlah negara di kawasan juga menyerukan deeskalasi konflik. Para diplomat menilai perang antara Iran dan AS berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas politik, ekonomi global, dan keamanan energi dunia.
Tamara menegaskan bahwa kemungkinan perang tetap bergantung pada hasil negosiasi ke depan. Jika diplomasi gagal dan tekanan militer meningkat, konflik bersenjata dapat menjadi skenario yang sulit dihindari. Namun, ia menilai kedua negara juga menyadari bahwa perang terbuka akan menimbulkan kerugian besar bagi semua pihak.














