Klikfakta38, Palembang,— Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) bersama Satuan Tugas (Satgas) Gabungan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) memperketat operasi pemadaman jalur darat dan udara. Langkah intensif ini diambil menyusul meluasnya area lahan yang terbakar di sejumlah titik rawan, terutama di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Ilir.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, operasi pemadaman udara melibatkan sedikitnya empat unit helikopter water bombing. Armada udara ini digerakkan untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses oleh tim darat akibat vegetasi gambut dan semak belukar yang tebal.
Fokus Operasi di Banyuasin dan Ogan Ilir
Di Kabupaten Banyuasin, titik api terpantau meluas di wilayah Kecamatan Rantau Bayur. Satgas udara mencatat telah meluncurkan ratusan kali ratusan sorti penyiraman air (water bombing) untuk melokalisasi kobaran api yang membakar lahan perkebunan masyarakat.
Sementara itu, di Kabupaten Ogan Ilir, pergetatan pemadaman dipusatkan di beberapa titik, seperti Kecamatan Indralaya Utara dan Pemulutan. Lahan mineral dan gambut tipis di kawasan APL (Area Penggunaan Lain) menjadi salah satu pemicu api cepat merambat saat angin kencang berembus.
”Kondisi di lapangan saat ini sebagian besar titik api sudah bisa dikendalikan, namun material bawah tanah masih menyisakan asap. Tim pemadaman darat dari BPBD, Manggala Agni, TNI, dan Polri terus melakukan pendinginan agar api tidak kembali menyala saat diterpa angin,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman.
Sinergi Pemadaman Darat dan Udara
Strategi pemadaman terpadu (joint operation) diterapkan dengan membagi dua alur kerja utama:
Satgas Darat: Personel gabungan Manggala Agni, BPBD kabupaten, TNI, Polri, dan masyarakat peduli api (MPA) memfokuskan penyekatan perimeter api, membuat sekat bakar, serta menyiram titik-titik asap bawah permukaan (sekat gambut).
Satgas Udara: Helikopter water bombing dan helikopter patroli dikerahkan secara simultan untuk mengguyur area hotspot berkategori intensitas tinggi di lokasi terisolasi.
BMKG Ingatkan Puncak Kemarau
BMKG Sumatera Selatan mengingatkan bahwa puncak musim kemarau di wilayah Sumsel diprediksi berlangsung sepanjang Agustus hingga September. Peningkatan suhu udara dan penurunan curah hujan secara signifikan dinilai mempertinggi tingkat kemudahan terbakar (fine fuel moisture code) pada tutupan lahan vegetasi kering.
Pemprov Sumsel terus mengimbau seluruh pihak dan masyarakat pemilik lahan untuk tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Pengawasan hukum dan patroli rutin di area rawan karhutla ditingkatkan guna mengantisipasi munculnya titik api baru di wilayah Sumatera Selatan.














