KLIKFAKTA38, 8 Agustus 2026 – Ada keheningan yang teramat pekat ketika melihat bumi Palestina hari ini. Keheningan itu bukan datang dari Gaza atau Tepi Barat—di mana jeritan dan ledakan terus bergema—melainkan dari dunia luar yang memilih untuk berpaling muka. Puing-puing yang berserakan di tanah Palestina bukan hanya reruntuhan fisik, melainkan simbol runtuhnya moralitas dan keadilan internasional.
Setiap kali konflik memuncak, narasi yang sama berulang: keprihatinan mendalam disuarakan, resolusi dirancangkan, namun tidak ada langkah konkret yang mampu menyetop pertumpahan darah. Kecepatan reaksi dunia internasional seolah melambat ketika korban yang berjatuhan adalah anak-anak dan warga sipil Palestina. Sikap diam ini bukan lagi sekadar kepasifan politik, melainkan bentuk pembiaran yang berlarut-larut.
Namun, sejarah tidak pernah lupa, dan bumi tidak pernah kehilangan ingatannya. Palestina hari ini adalah ujian terbuka bagi kemanusiaan. Setiap tanah yang luluh lantak, setiap nyawa yang melayang, dan setiap jeritan yang tak terdengar akan mencatat siapa saja yang memilih untuk bersuara dan siapa yang memilih untuk bungkam.
Kelak, bumi Palestina bukan hanya akan dikenang sebagai tanah penderitaan, tetapi juga sebagai saksi bisu yang menguji nurani manusia. Pada saatnya tiba, sejarah akan menghakimi: di mana posisi kita ketika keadilan dihancurkan, dan mengapa dunia memilih untuk diam?
Abduh Hanif MR


















