Bentrok Antarwarga di Adonara Flores Timur Pecah, 3 Orang Tewas dan Puluhan Rumah Terbakar

KLIKFAKTA38 – FLORES TIMUR, KOMPAS/DETIK — Konflik berdarah antarwarga kembali pecah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden yang melibatkan warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur tersebut mengakibatkan 3 orang meninggal dunia, sedikitnya 5 warga mengalami luka-luka, serta 20 unit rumah hangus terbakar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bentrokan fisik mematikan itu terjadi pada Sabtu (18/7/2026) pagi. Pertikaian diduga dipicu oleh sengketa lahan batas wilayah yang telah berlangsung lama dan kembali memanas di antara kedua kelompok warga.

banner 325x300

Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, membenarkan adanya korban jiwa dan kerusakan material akibat peristiwa tersebut.

“Data sementara mencatat tiga orang meninggal dunia, lima orang mengalami luka-luka, dan sekitar 20 unit rumah terbakar. Pendataan dan penyisiran di lapangan masih terus dilakukan oleh petugas,” ujar AKP Eliezer dalam keterangannya.

Ketiga korban tewas dilaporkan berasal dari kedua pihak yang bertikai, yakni dua warga Desa Narasaosina dan satu warga Desa Waiburak. Korban yang mengalami luka-luka langsung dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis mendalam.

Baca juga:Diduga Terlibat Kasus Korupsi Bupati Pemalang, Rumah Gus Haris Digeledah Tim Penyidik

Pasca-kejadian, aparat gabungan dari TNI dan Polri dikerahkan ke lokasi untuk memisahkan kedua kubu serta menyisir area perbatasan guna mengantisipasi bentrokan susulan. Situasi di lokasi secara bertahap berhasil dikendalikan, meski aparat keamanan tetap disiagakan di titik-titik rawan.

Pihak kepolisian mengimbau seluruh masyarakat setempat agar tetap menahan diri, tidak terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar, serta menyerahkan penanganan konflik sepenuhnya kepada aparat hukum dan pihak berwenang. Selain pengerahan pengamanan, upaya pendekatan humanis dan mediasi yang melibatkan tokoh adat serta masyarakat setempat terus diupayakan untuk menciptakan perdamaian permanen.

 

 

Penulis: Abduh Hanif MREditor: Hengki Revandi