Bertaruh Nyawa Demi Tuntut Ilmu: Jagat Maya Dihebohkan Video Pelajar di Aceh Seberangi Sungai Berarus Deras Hanya Bermodal Seutas Tali

KLIKFAKTA38 – BANDA ACEH, 24 Juli 2026 — Sebuah rekaman video amatir berdurasi singkat mendadak viral di media sosial dan memicu gelombang simpati serta keprihatinan publik. Video tersebut memperlihatkan pemandangan memilukan: sejumlah pelajar berseragam sekolah harus berpegangan ekstra kuat pada seling besi dan tali sisa jembatan yang putus demi menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras.

Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses penghubung antardesa tersebut ambruk setelah diterjang banjir. Bukannya mendapat penanganan darurat yang cepat, fasilitas vital tersebut justru dibiarkan terbengkalai, memaksa anak-anak sekolah mempertaruhkan keselamatan jiwa setiap pagi dan sore hari.

banner 325x300

Realita Pahit di Lapangan: Tangan Mungil Berpegang pada Maut

Dalam video yang beredar, tampak para siswa berjalan secara perlahan dan bergantian. Pijakan kaki mereka hanyalah sisa kawat kabel yang licin dan sempit, sementara di bawah mereka mengalir air sungai yang dalam. Langkah kaki sedikit saja meleset atau genggaman tangan terlepas, maut siap menyambut di bawah sana.

Bagi warga setempat, memilih jalur darat lain bukanlah opsi yang mudah. Jalur memutar membutuhkan jarak tempuh berkilometer-kilometer melewati medan berbukit yang terjal dan memakan waktu berjam-jam. Demi tidak terlambat mengikuti proses belajar-mengajar maupun ujian di sekolah, para siswa terpaksa mengambil risiko tertinggi yang tak seharusnya dipikul oleh anak-anak seusia mereka.

“Setiap pagi kami orang tua diliputi rasa cemas luar biasa. Kalau air sungai naik, anak-anak takut menyeberang. Tapi kalau lewat jalan mutar, jaraknya jauh sekali dan medannya sulit,” ungkap salah satu warga setempat dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

Baca juga: Pernyataan “Silakan Cari Negara Lain” Presiden Prabowo Soroti Fenomena Pelepasan Kewarganegaraan 8.000 WNI

Di Mana Perhatian dan Respons Cepat Pemerintah?

Viralnya video ini memicu sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Kritik pedas mengarah pada lambatnya kepekaan dan respons penanganan infrastruktur darurat oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Di tengah jargon pemerataan pendidikan dan pembangunan infrastruktur nasional, fenomena pelajar bertaruh nyawa di atas seutas tali bak tamparan keras bagi realita pendidikan di daerah pedalaman.

Beberapa poin kritis yang disuarakan publik antara lain:

Lambatnya Evakuasi & Jalur Darurat: Mengapa tidak ada penyediaan perahu penyeberangan yang aman atau pembuatan jembatan bailey/darurat sementara pascabencana?

Keamanan Anak Sekolah: Hak dasar anak untuk mendapatkan akses pendidikan yang aman dan layak seolah terabaikan

Mekanisme Anggaran Bencana: Lambatnya pencairan dan eksekusi perbaikan infrastruktur publik pascabanjir yang berdampak langsung pada fasilitas pendidikan.

Tokoh masyarakat dan aktivis lokal meminta pejabat terkait—mulai dari tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Kementerian PUPR dan Kemendikbudristek—untuk tidak menunda-nunda perbaikan. Jangan sampai menunggu jatuh korban jiwa baru ada tindakan konkret yang diambil.

Harapan Penanganan Segera

Masyarakat berharap dengan viralnya video ini, jajaran pemerintah tidak sekadar memberikan janji manis atau peninjauan formalitas semata. Pembangunan jembatan darurat yang aman harus menjadi prioritas utama demi menjamin keselamatan anak-anak penerus bangsa dalam menuntut ilmu.

 

 

Penulis: Yuyun IriyantiEditor: Hengki Revandi