KLIKFAKTA38 – FLORES TIMUR — Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memuntahkan material vulkanik dan resmi ditetapkan dalam tingkat aktivitas Level III (Siaga). Peningkatan erupsi serta aktivitas seismik vulkanik yang signifikan ini memicu langkah cepat dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengamankan warga di sekitarnya.
Erupsi tercatat melontarkan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam pekat setinggi kurang lebih 800 meter hingga beberapa kilometer di atas puncak. Erupsi ini juga disertai tremor berdurasi panjang serta ancaman guguran awan panas yang mengarah ke sektor utara dan timur laut.
Parameter Detail Kejadian
Lokasi Bencana Kec. Wulanggitang & Ile Bura, Kab. Flores Timur, NTT
Status Gunung Api Level III (Siaga)
Tinggi Kolom Abu Terekam ±800 meter hingga >1 km di atas puncak
Radius Zona Bahaya Minimal 5 – 7 kilometer dari kawah utama
Potensi Bahaya Sekunder Hujan abu tebal, paparan material erupsi, dan banjir lahar hujan
Kondisi Terkini ErupsiStatus Gunung: Level III (Siaga). Aktivitas Terbaru: Semburan abu setinggi 1.000 meter terjadi pada malam 20 Agustus 2026 dengan intensitas tebal ke arah barat dan barat laut. Erupsi Sebelumnya: Sempat terjadi letusan beruntun dalam sepekan terakhir, termasuk dua kali erupsi pada 19 Agustus 2026 dengan kolom abu setinggi 400 meter.
Langkah Mitigasi dan Himbauan Resmi
Petugas gabungan dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta seluruh lapisan masyarakat untuk mematuhi arahan keselamatan berikut:
Sterilisasi Zona Bahaya: Warga maupun wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius aman yang telah ditentukan dari pusat kawah.
Antisipasi Abu Vulkanik: Masyarakat terdampak diimbau mengenakan masker atau penutup hidung dan mulut (APD) saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari gangguan ISPA.
Waspada Lahar Hujan: Warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (seperti wilayah Dulipali, Nobo, dan Boru) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir lahar dingin, terutama saat hujan deras melanda area puncak.


















