KLIKFAKTA38 – Jakarta, 2 Mei 2025 — Memasuki bulan-bulan awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, situasi politik nasional menunjukkan gejolak yang semakin memanas. Sejumlah pengamat menyoroti tanda-tanda krisis politik yang dipicu oleh ketegangan antara kekuasaan eksekutif, legislatif, dan respons masyarakat sipil terhadap beberapa kebijakan kontroversial.
Pemerintahan Prabowo, yang dilantik pada Oktober 2024 lalu, langsung mengeluarkan sejumlah kebijakan strategis, termasuk perombakan kabinet dan revisi undang-undang yang dinilai memperkuat wewenang presiden. Namun langkah-langkah ini justru memicu kritik keras dari berbagai elemen masyarakat, termasuk akademisi, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil.
Salah satu sumber ketegangan utama adalah usulan penguatan peran militer dalam urusan sipil. Rencana ini dituding membuka peluang kembalinya dwifungsi ABRI, yang telah dihapuskan pascareformasi 1998. Kritik juga muncul terhadap sikap pemerintah yang dinilai anti-kritik, dengan meningkatnya kasus intimidasi terhadap aktivis dan jurnalis.
Ketegangan makin memburuk setelah terjadi aksi demonstrasi besar-besaran di berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Massa menuntut keterbukaan, perlindungan terhadap hak asasi manusia, serta jaminan bahwa demokrasi tetap berjalan sesuai amanat reformasi.
Dalam pernyataan resminya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas nasional dan menjunjung tinggi konstitusi. Namun, banyak pihak mempertanyakan implementasi dari komitmen tersebut di tengah meningkatnya praktik represif di lapangan.
Situasi politik saat ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi krisis konstitusional jika ketegangan tidak dikelola dengan bijak. Pengamat politik dari berbagai universitas menyerukan dialog nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa untuk mencegah eskalasi konflik dan menjaga keutuhan demokrasi.
Pemerintahan Prabowo berada di persimpangan jalan: antara memperkuat stabilitas dengan pendekatan otoriter, atau merangkul demokrasi dengan dialog dan reformasi. Masyarakat Indonesia kini menanti arah yang akan diambil oleh kepemimpinan nasional ke depan.














