klikfakta38. – Apabila kita menyadari dan telaah dalam keseharian. Belum sempat membuka mata sepenuhnya, notifikasi sudah berbaris di layar ponsel: pesan grup keluarga, promosi e-commerce, berita politik terbaru, video pendek yang “direkomendasikan algoritma”, sampai broadcast dari kantor.
Kita belum sarapan, tapi otak sudah disuguhi ratusan potongan informasi. Fenomena ini bukan kebetulan, dan bukan pula sekadar keluhan generasi yang gagap teknologi. Ini adalah Ini adalah gejala dari persoalan yang telah lama dibahas dalam kajian informasi dan komunikasi kelangkaan perhatian di tengah kelimpahan informasi di tengah banjir informasi.
Dulu, komunikasi publik berjalan lebih sederhana: satu sumber, satu pesan, banyak penerima. Radio, koran, dan televisi menjadi corong utama, dan masyarakat relatif punya waktu untuk mencerna satu isu sebelum berpindah ke isu berikutnya. Sekarang, siapa pun bisa menjadi “stasiun siaran” pribadinya sendiri.
Warganet biasa, influencer, akun anonim, hingga bot otomatis, semuanya berebut mikrofon di ruang publik yang sama. Hasilnya bukan percakapan yang lebih kaya, melainkan keramaian yang membuat kita kewalahan menentukan mana yang penting untuk didengarkan.
Ledakan Informasi dan Krisis Perhatian
Persoalan mendasarnya sebenarnya sudah diramalkan jauh sebelum media sosial lahir. Ekonom dan ilmuwan kognisi peraih Nobel, Herbert A. Simon, pernah menjelaskan bahwa dunia yang kaya informasi justru menciptakan kemiskinan pada satu hal, perhatian manusia.
Ia berargumen bahwa yang benar-benar dikonsumsi oleh informasi bukanlah waktu, melainkan kapasitas perhatian penerimanya, sehingga semakin melimpah informasi yang beredar, semakin langka dan berharga perhatian yang tersisa untuk dialokasikan.
Gagasan ini terasa sangat relevan dengan keseharian kita. Bayangkan seorang karyawan yang harus membaca puluhan pesan WhatsApp kerja, membalas email, sambil sesekali melirik linimasa media sosial saat istirahat makan siang. Ia tidak kekurangan informasi,
ia justru tenggelam di dalamnya. Semakin banyak pesan yang masuk, semakin sedikit ruang mental yang tersisa untuk benar-benar memahami satu isu secara mendalam. Inilah akar dari kebisingan komunikasi publik bukan karena informasinya buruk, tapi karena volumenya melampaui kapasitas kita untuk menyaring dan merenungkannya.
Ironisnya, semakin bising ruang publik, semakin banyak pula pihak yang berlomba meninggikan volume suara mereka, mulai dari judul berita yang dibuat provokatif, notifikasi yang dirancang mengganggu, sampai konten yang sengaja dibuat kontroversial agar dilihat. Semua bersaing memperebutkan sumber daya yang sama dan terbatas itu: perhatian kita.
Algoritma, Gelembung Filter, dan Suara yang Terpecah
Kebisingan ini diperparah oleh cara platform digital bekerja. Aktivis internet Eli Pariser memperkenalkan konsep filter bubble untuk menggambarkan bagaimana personalisasi algoritmik dapat menyaring dan memprioritaskan informasi berdasarkan data, perilaku, dan preferensi pengguna, sehingga masing-masing dari kita hidup dalam “gelembung informasi” yang unik dan berbeda satu sama lain.
Dua orang yang membuka aplikasi berita yang sama, pada jam yang sama, bisa disuguhi realitas yang terasa sangat berbeda.
Kita mungkin pernah mengalami sendiri berdebat dengan teman atau keluarga soal suatu isu, lalu sadar bahwa masing-masing membawa “fakta” yang berbeda, bukan karena salah satu berbohong, tapi karena algoritma sudah lebih dulu memilihkan bacaan yang sesuai selera masing-masing.
Percakapan pun tidak lagi bertemu di titik yang sama, melainkan berjalan sejajar tanpa pernah benar-benar saling mendengar.
Di sisi lain, sosiolog Manuel Castells menyoroti perubahan struktural yang lebih dalam. Menurutnya, era digital melahirkan bentuk komunikasi baru yang ia sebut komunikasi diri yang dimassalkan (mass self-communication), yaitu kondisi ketika setiap individu bisa memproduksi dan menyebarkan pesannya sendiri secara luas tanpa perlu melalui lembaga media atau redaksi mana pun. Siapa saja bisa menjadi penyiar dadakan hanya lewat unggahan status atau video singkat.
Kabar baiknya, ini demokratisasi suara, orang biasa kini bisa didengar tanpa harus lolos seleksi redaksi. Kabar kurang baiknya, arus pesan menjadi horizontal dan tak berjenjang, sehingga tidak ada lagi “penjaga gerbang” yang menyaring mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang sekadar opini sesaat. Semua orang bicara, tapi semakin sedikit yang benar-benar mendengarkan, apalagi memverifikasi.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas di Ruang Publik Digital
Kebisingan komunikasi publik hari ini adalah pertemuan tiga hal sekaligus: informasi yang melimpah melampaui kapasitas perhatian kita, algoritma yang mengotak-ngotakkan realitas setiap orang, dan pergeseran penjaga gerbang informasi karena siapa pun bisa bersuara. Ketiganya saling menguatkan, membuat ruang publik terasa ramai tapi kosong, penuh suara tapi minim pemahaman bersama.
Barangkali yang kita butuhkan bukan lagi mencari cara menambah volume suara kita di tengah keramaian itu, melainkan belajar kembali soal jeda. Memilih dengan sadar apa yang layak kita dengarkan, mengecek ulang sebelum percaya, dan sesekali mematikan notifikasi hanya untuk memberi ruang bagi perhatian kita bernapas.
Di dunia yang kelewat bising, kemampuan untuk diam sejenak dan benar-benar mendengarkan bisa jadi adalah bentuk kewarasan yang paling berharga.






















