Sumut, KlikFakta38 – Di tengah riuh rendahnya kebijakan pemerintah, kita sering disuguhi rangkaian program baru yang silih berganti. Ada pelatihan, beasiswa, wirausaha muda, magang, literasi digital, hingga duta ini dan itu. Spanduk berganti, logo berganti, jabatan berganti. Namun nasib generasi muda bangsa? Masih sama: jalan di tempat.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar membangun generasi, atau sekadar memoles citra dengan program yang ramai di permukaan tetapi kosong di dalam?
Program Hiruk-Pikuk: Ramai Tapi Tanpa Arah
Kebijakan hari ini sering kali menyerupai pasar malam . Ramai, terang, penuh janji. Tetapi begitu lampu padam, tidak ada bangunan yang benar-benar berdiri. Yang tersisa hanya laporan kegiatan, foto seremonial, dan anggaran yang habis terserap.
Banyak program yang lahir bukan karena kebutuhan nyata di lapangan, melainkan karena dorongan serapan anggaran dan pencitraan politik . Program A belum selesai dievaluasi, sudah muncul program B. Guru, dosen, perangkat desa, hingga pemuda di akar rumput dibuat bingung: “Sebenarnya kita ini disuruh ke mana?”
Generasi Muda: Antara Harapan dan Kebingungan
Anak muda tidak butuh seribu program yang setengah hati. Mereka membutuhkan tiga program yang konsisten, jelas ukurannya, dan sampai ke desa .
Ketika berbicara tentang Generasi Emas 2045 , siapa yang diajak bicara? Sering kali bukan anak muda itu sendiri. Kebijakan dibuat di atas meja kantor, jauh dari denyut kampus, jauh dari keluh kesah lulusan SMK yang menganggur, jauh dari petani muda yang membutuhkan pupuk, bukan seminar motivasi.
Kita sibuk “membangun generasi”, tetapi lupa bertanya: “Kamu mau dibangun seperti apa?”
Program Tanpa Fondasi: Kosmetik Politik
Mau ada seribu program kewirausahaan, kalau lapangan kerja tidak ada, ya percuma. Mau ada beasiswa, kalau sekolah di daerah 3T masih rusak dan guru honorer gajinya telat, ya percuma. Mau ada digitalisasi, kalau sinyal di desa masih 1 bar, ya percuma.
Bangsa ini butuh fondasi dulu :
Pendidikan berkualitas
Lapangan kerja layak
Kepastian hukum
Tanpa tiga hal itu, semua program hanya akan menjadi kosmetik politik.
Evaluasi dan Konsistensi: Kunci Membangun Generasi
Sudah saatnya kita berhenti berlomba membuat program baru. Saatnya duduk sejenak, memutar, memangkas yang tidak efektif, dan fokus membangun satu ekosistem yang benar-benar menghidupi generasi .
Membangun bangsa bukan diukur dari berapa banyak program yang diumumkan, tetapi dari berapa banyak anak muda yang benar-benar naik kelas karena program itu.
Refleksi Kritis
Fenomena kebijakan yang hiruk-pikuk arah tanpa menunjukkan adanya konsistensi krisis . Negara terlalu sibuk dengan pencitraan jangka pendek, sementara generasi muda dibiarkan banyak.
Jika pola ini terus berlanjut, maka 2045 bukanlah “Generasi Emas”. Yang ada hanya “Generasi Lelah” generasi yang kecewa di negaranya sendiri.
Penutup
Program Bangsa ini tidak kekurangan. Kekurangan kita adalah arah, konsistensi, dan keberanian untuk membangun landasan .
Generasi muda tidak membutuhkan janji manis di spanduk, mereka membutuhkan kebijakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari: sekolah yang layak, pekerjaan yang amanah, dan hukum yang melindungi.
Jika pemerintah berani fokus pada fondasi, maka program apapun akan menjadi efektif. Tetapi jika kebijakan terus hiruk-pikuk tanpa arah, maka cita-cita Generasi Emas 2045 hanya akan tinggal slogan.














