Menu

Otomatis
FAKTA TERKINI

Opini

Lima Jurnalis Hilang, Sebuah Harapan yang Tak Pernah Padam

badge-check

5 jurnalis yang hilang di Selat Sunda di kawasan Gunung Anak Krakatau ( Dok : istimewa instagram Basarnas) Perbesar

5 jurnalis yang hilang di Selat Sunda di kawasan Gunung Anak Krakatau ( Dok : istimewa instagram Basarnas)

klikfakta38. – Sejak Senin sore, sebuah speedboat bernama Arupadhatu 1 belum juga merapat. Di dalamnya ada lima jurnalis dan tiga awak kapal yang berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju perairan Selat Sunda untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kapal itu membawa delapan orang: lima jurnalis, seorang kapten kapal, seorang anak buah kapal, dan seorang guide.

Mereka adalah Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), ABK; Heriyanto (49), guide; serta M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Rombongan tersebut berangkat sekitar pukul 14.00 WIB. Sekitar pukul 14.42 WIB, tercatat komunikasi antara mereka dan jurnalis di Lampung. Jejak komunikasi berikutnya tercatat sekitar pukul 15.04 WIB.

Sekitar pukul 18.13 WIB, pemandu rombongan disebut sempat mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau. Itulah salah satu jejak komunikasi terakhir yang diketahui. Setelah itu, komunikasi dengan rombongan terputus.

Sementara itu, di Hotel Pada Suka, tempat mereka menginap malam sebelumnya, sejumlah barang milik rombongan masih tertinggal. Sebuah mobil, dua tas, dan sebungkus roti yang baru separuh dimakan seolah menjadi penanda bahwa mereka pergi tanpa sempat menyelesaikan urusan kecil yang ditinggalkan.

Seolah mereka hanya pergi sebentar. seolah beberapa jam kemudian mereka akan kembali. Tetapi waktu terus berjalan.

Di tempat lain, ada keluarga yang menunggu. Ada istri yang mungkin menghitung satu per satu kapal yang diturunkan untuk melakukan pencarian. Ada anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, tetapi hanya mampu mengucapkan satu doa sederhana: “Semoga ayah pulang.”

Risiko yang Jarang Terlihat dari Layar Televisi

Kita terbiasa menyaksikan liputan bencana sebagai sesuatu yang sudah selesai, gambar yang stabil, narasi yang tenang, informasi yang tersusun rapi. Kita melihat hasil akhirnya.Yang jarang kita lihat adalah proses di baliknya.

Ada jurnalis yang harus bergerak menuju lokasi ketika sebagian besar orang justru memilih menjauh. Ada kru yang harus menyeberangi laut dengan speedboat menuju kawasan gunung api yang sedang aktif, demi memastikan publik memperoleh informasi tentang apa yang sedang terjadi.

Di balik sebuah gambar yang muncul beberapa detik di layar televisi, sering kali ada perjalanan panjang, keputusan berisiko, dan keberanian seseorang untuk berada di tempat yang tidak aman.

Satu prinsip terus menjadi pengingat penting bagi para peliput lapangan, tidak ada berita yang sepadan dengan nyawa seorang jurnalis. Prinsip itu terdengar sederhana. Namun dalam praktiknya, ia menjadi rumit ketika profesi menuntut kehadiran fisik di tengah situasi yang berbahaya.

Jurnalis memang dituntut hadir. Tetapi kehadiran itu tidak seharusnya dimaknai sebagai kewajiban untuk mempertaruhkan nyawa tanpa batas. Ironisnya, justru karena keberanian dan dedikasi para jurnalis itulah publik dapat mengetahui apa yang terjadi di tempat-tempat yang mungkin tidak dapat mereka datangi sendiri.

CEO Committee to Protect Journalists (CPJ), Jodie Ginsberg, pernah mengingatkan bahwa jurnalis berperan mengungkap kejahatan lingkungan, korupsi, dan jaringan kejahatan terorganisir yang mengeksploitasi sumber daya alam, sekaligus melaporkan inovasi dan kebijakan yang dapat menghentikannya.

Pekerjaan jurnalistik, pada sifatnya sendiri, sering membawa seseorang mendekati titik-titik paling rawan. Karena itu, lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda bukan sedang mencari sensasi. Mereka sedang menjalankan salah satu fungsi paling mendasar dari profesinya, hadir di tempat kejadian agar orang lain tidak harus hadir untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Wajah di Balik Angka Statistik

Ada kecenderungan ketika sebuah bencana menimpa jurnalis, publik memperlakukannya seperti berita lainnya. Satu paragraph, satu judul lalu bergeser ke berita berikutnya. Padahal, setiap angka dalam data korban jurnalistik dunia menyimpan wajah, kepribadian, keluarga, bakat, dan dedikasi seseorang.

Mereka bukan angka. Mereka adalah manusia yang memiliki rumah untuk pulang. Mereka memiliki orang-orang yang menunggu. Mereka memiliki anak yang mungkin masih menyimpan pesan terakhir dari ayahnya di dalam telepon.

Mereka memiliki pasangan yang mungkin sampai hari ini masih menatap layar ponsel, berharap nama itu kembali muncul. Begitulah seharusnya kita membaca peristiwa ini.

Bukan sekadar sebagai berita tentang “lima jurnalis hilang”, melainkan sebagai kisah tentang lima keluarga yang sedang menghitung waktu. Satu jam, dua jam, satu malam, kemudian hari berikutnya.

Di tengah situasi seperti itu, solidaritas dari rekan-rekan seprofesi menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada sekadar simbol. Doa bersama yang digelar organisasi wartawan foto, wartawan hukum, dan berbagai komunitas pers di sejumlah kota memperlihatkan bahwa dunia jurnalistik memahami arti kehilangan salah satu dari mereka.

Ini bukan sekadar solidaritas seremonial. Ini adalah bentuk kesadaran bahwa keselamatan seorang jurnalis merupakan persoalan bersama. Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, pernah menegaskan bahwa perjuangan melawan impunitas merupakan bagian penting dari perlindungan kebebasan berekspresi, kebebasan pers, dan akses terhadap informasi.

Dalam konteks ini, negara dan masyarakat tidak cukup hanya berduka setelah sesuatu terjadi. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa keselamatan jurnalis dipandang sebagai bagian dari ekosistem kebebasan pers itu sendiri.

Ketika negara, aparat, organisasi pers, dan masyarakat serius mencari jurnalis yang hilang, bukan sekadar meratapinya, pada saat itulah komitmen terhadap kebebasan pers benar-benar diuji. Bukan di panggung peringatan. Bukan dalam pidato. Tetapi di lapangan.

Harapan yang Tak Boleh Padam Sebelum Waktunya

Hingga tulisan ini dibuat, pencarian masih berlangsung. Kapal-kapal diturunkan. Tim SAR gabungan dari Banten hingga Lampung disiagakan. Perairan sekitar Pulau Panaitan terus disisir.

Anggota DPR juga menyampaikan keprihatinan dan mendorong agar pencarian dioptimalkan dengan memadukan seluruh informasi yang tersedia. Dalam situasi seperti ini, kita tidak membutuhkan spekulasi.

Kita membutuhkan kerja. Kita tidak membutuhkan kepanikan. Kita membutuhkan pencarian yang maksimal. Dan kita tidak membutuhkan kabar yang belum terverifikasi. Kita membutuhkan informasi yang akurat.

Yang dapat dilakukan publik sebenarnya sederhana terus mengawal informasi, tidak membiarkan kabar tentang mereka tenggelam di tengah derasnya berita lain, serta mendoakan agar kelima jurnalis dan tiga awak kapal itu ditemukan dalam keadaan selamat.

Sebab setiap kali kita membaca berita hari ini, ada kemungkinan besar berita itu merupakan hasil kerja seseorang yang pernah, atau sedang, mempertaruhkan keselamatannya sendiri agar informasi sampai kepada kita.

Karena itu, keselamatan jurnalis tidak boleh hanya menjadi urusan keluarga ketika musibah datang. Ia harus menjadi perhatian redaksi, perusahaan media, organisasi pers, pemerintah, dan seluruh ekosistem jurnalistik.

Keluarga di Depok, Lampung, dan berbagai tempat lainnya kini sedang menunggu. Mereka tidak sedang menunggu statistik. Mereka tidak sedang menunggu analisis. Mereka sedang menunggu seseorang pulang.

Maka selama belum ada kepastian, pencarian harus terus dilakukan dengan segala daya yang tersedia. Semakin panjang waktu berlalu, semakin berat penantian yang harus mereka jalani. Tetapi selama belum ada kepastian, kita tidak berhak mengubur harapan.

Lima jurnalis itu bukan sekadar nama dalam sebuah berita. Mereka adalah manusia yang sedang ditunggu untuk pulang.

Dan selama pencarian belum berakhir, harapan tidak boleh dikuburkan oleh waktu.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menyoal Tekanan terhadap Pemberitaan BBC Indonesia dan Deduktif.id dalam Negara Demokrasi

8 Sep 2026 - 15:34 WIB

Menyoal Tekanan terhadap Pemberitaan BBC Indonesia dan Deduktif.id dalam Negara Demokrasi

Jurnalisme Digital di Tengah Ledakan Konten

6 Sep 2026 - 08:29 WIB

Jurnalisme Digital di Tengah Ledakan Konten

Kepemimpinan Melalui Komunikasi Tatkala Kata Menjadi Kekuatan

3 Sep 2026 - 10:57 WIB

Kepemimpinan Melalui Komunikasi Tatkala Kata Menjadi Kekuatan

Mengapa Feature Journalism Tetap Dibutuhkan?

30 Agu 2026 - 10:10 WIB

Mengapa Feature Journalism Tetap Dibutuhkan?

Merdeka, Pers dan Pemerintah: Sebuah Perenungan di HUT RI ke-81

17 Agu 2026 - 02:29 WIB

Merdeka, Pers dan Pemerintah: Sebuah Perenungan di HUT RI ke-81
Trending di Opini