Klik Fakta38 – Di negeri ini, tampaknya kemampuan menjilat lebih laku ketimbang prestasi. Tak perlu pintar, cukup pintar cari muka. Tak perlu berkontribusi nyata, asal bisa membungkuk di depan atasan, jabatan bisa didapat. Fenomena ini makin menjamur: orang-orang yang duduk di kursi empuk kekuasaan bukan karena kapasitas, tapi karena relasi dan kepandaian pura-pura loyal.
Begitu sudah duduk di atas, lupa daratan. Dulu rajin mengemis jabatan, sekarang jadi raja kecil. Sombongnya mengalahkan prestasi, padahal kinerjanya bisa dibilang nihil. Datang rapat telat, program tak jalan, pelayanan publik makin amburadul. Tapi lihat gayanya di media sosial: sok bijak, sok sibuk, padahal kenyataannya lebih banyak pencitraan ketimbang kerja.
Baru jadi pejabat receh, udah gaya kayak Presiden. kemana-mana dikawal, ngopi harus ditempat berkelas, padahal kerjaannya? Nol. rakyat menderita dia sibuk pencitraan.
Yang bikin kesel, sok paling bener. Dikritik dikit langsung baper, padahal waktu dulu doyan banget ngomentarin pejabat. Sekarang giliran dia di atas, malah lebih parah.
Rakyat yang dulu dijadikan jembatan untuk naik, kini dianggap beban. Tak ada lagi kepedulian, yang ada hanya kepentingan diri dan kelompoknya. Ironis, pejabat model begini merasa diri paling benar, paling berjasa, padahal jejak rekamnya pun buram.
Negeri ini butuh pemimpin yang bekerja dengan hati, bukan penjilat yang haus validasi. Kita muak dengan pejabat yang hanya bisa pamer gaya tanpa karya. Cukup sudah era “naik karena menjilat, duduk karena akal bulus, dan bertahan karena sok kuasa.” Rakyat sekarang tak lagi mudah dibohongi.
Jabatan itu amanah, bukan panggung sandiwara. Kalau tak bisa kerja, lebih baik mundur saja. Jangan terus jadi beban anggaran dan sumber frustrasi publik!
Post Views: 466