KLIKFAKTA38 – JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memimpin Rapat Terbatas (Ratas) Penanganan Bencana Alam dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9/2026) siang. Rapat yang digelar secara hibrida tersebut diikuti oleh jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BNPB, serta sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam pengarahannya, Presiden menyoroti rentetan peristiwa bencana alam yang melanda Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur. Prabowo mengingatkan bahwa letak geografis Indonesia di kawasan Ring of Fire menuntut seluruh jajaran pemerintah untuk selalu berada dalam posisi siap siaga.
Penindakan Karhutla dan Pengawasan Perizinan
Fokus utama rapat tertuju pada penanganan Karhutla. Presiden memberikan instruksi tegas kepada instansi penegak hukum untuk mengusut tuntas indikasi kesengajaan pembakaran lahan, terutama kawasan yang berubah cepat menjadi perkebunan usai terbakar. Kepala Negara meminta kementerian terkait, seperti Kementerian Kehutanan serta Kementerian ATR/BPN, untuk mengevaluasi dan tidak ragu mencabut izin Hak Guna Usaha (HGU) korporasi yang terbukti melanggar.
Langkah Stratejik Pemerintah
Percepatan Penanggulangan Darurat: Menginstruksikan BNPB, BMKG, TNI, Polri, dan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat koordinasi penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau serta dampak bencana di daerah terdampak lainnya.
Penegakan Hukum Karhutla: Meminta laporan detail dari Kapolri terkait proses hukum terhadap oknum maupun korporasi pelaku pembakaran hutan secara ilegal.
Sinergi Pusat dan Daerah: Memastikan pemerintah daerah proaktif menyalurkan bantuan logistik, perlindungan evakuasi, dan fasilitas kesehatan bagi warga terdampak.
Presiden menegaskan pentingnya efisiensi dan kecepatan respons di lapangan. Koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama agar dampak sosial-ekonomi masyarakat terdampak bencana dapat segera tertangani dengan optimal.
Yuyun Iriyanti
















