Drama Musikal sebagai Media Edukasi – Para pelajar tampil dalam pertunjukan Senandung Bunian di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru. Drama musikal ini menjadi cara baru yang edukatif untuk mengenalkan sejarah dan sastra tradisional kepada generasi muda. (Dok. Yayasan Begawai Riau)
KlikFakta38 – Pekanbaru, Ada yang beda di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, malam-malam ini. Denting musik tradisional berpadu dengan tawa anak-anak dan kisah mistis tentang makhluk halus yang tak kasat mata—Bunian. Ya, ini bukan sekadar pertunjukan biasa.
Yayasan Begawai Riau Independen mempersembahkan Drama Musikal Senandung Bunian, pertunjukan budaya yang digelar selama tiga malam, 23 hingga 25 Mei 2025, pukul 20.00–22.00 WIB.
Menariknya, yang tampil di panggung bukan artis profesional, melainkan anak-anak dan remaja dari berbagai SD dan SMP di Pekanbaru. Mereka tampil penuh semangat membawa cerita rakyat, adat istiadat, serta nilai-nilai budaya Melayu yang dibalut dalam bentuk musikal.
“Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Ini ruang belajar untuk memahami sejarah dan jati diri mereka sebagai anak Melayu,” ujar Benie Riaw, Ketua Yayasan Begawai Riau Independen.
Latar cerita mengangkat kisah kampung fiktif bernama Telaga Putri. Di sana, anak-anak belajar mengaji, bersilat, menari, dan bermain musik tradisional. Di tengah kegiatan itu, muncullah cerita tentang Bunian—makhluk halus yang dipercaya hidup di alam lain, tapi bisa hadir lewat cerita-cerita lama yang terus hidup di tengah masyarakat.
Fachrozi Amri, Sekretaris Yayasan, bilang bahwa Senandung Bunian bukan hanya cerita mitos. Ada pesan sosial yang diselipkan. “Ini refleksi dari hal-hal tersembunyi yang masih ada di sekitar kita. Sekaligus ajakan untuk jujur dan mencintai budaya sendiri,” katanya.
Bukan cuma soal seni. Pertunjukan ini juga jadi sarana untuk memperkuat karakter generasi muda. Lewat musik, tari, dan drama, anak-anak dilatih mengenal nilai, sejarah, dan akar budaya mereka sendiri.
“Kalau bukan kita yang rawat budaya ini, siapa lagi?” tutup Fachrozi.