MATARAM – 12/5/2026 – Lembaga Sertifikasi Profesi Energi Nusantara melakukan kunjungan kerja ke SMK Negeri 3 Mataram pada Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di gedung SMKN 3 Mataram ini disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Sulman Haris.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Ketua LSP Energi Nusantara, Safria Sahlan, ia dikenal sebagai profesional komunikasi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Health, Safety, and Environment (HSE), serta memiliki komitmen tinggi dalam mendorong percepatan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya para pekerja di sektor EBT yang belum memiliki sertifikat kompetensi.
Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompeten, khususnya pada bidang Teknik Energi dan Lingkungan serta Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU). Program ini mendukung pengembangan kompetensi pada bidang Teknik Energi Surya, Hidro, dan Angin, sejalan dengan kebutuhan tenaga kerja profesional di sektor energi baru terbarukan.
Sebagai lembaga yang berfokus pada sertifikasi profesi, LSP Energi Nusantara memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi unggul melalui uji kompetensi dan sertifikasi yang sesuai dengan standar industri. Dalam pertemuan tersebut, LSP Energi Nusantara menawarkan dua skema sertifikasi utama, yaitu: Pelaksana Pemasangan dan Pembangunan PLTS Atap dan Pelaksana Kelistrikan Pemasangan dan Pembangunan PLTS Atap.
Hasil dari pertemuan ini, tercapainya kesepakatan bahwa SMKN 3 Mataram akan menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk pelaksanaan uji sertifikasi pada skema Pemasangan dan Pembangunan PLTS Atap.
Dalam sambutannya, Sulman Haris menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap kerja sama ini.
“Kami menyambut sangat baik kerja sama ini karena memiliki visi dan misi yang sama, yaitu mencetak SDM unggul dan Indonesia kompeten. Kerja sama ini kami persembahkan untuk Nusa Tenggara Barat agar generasi muda memiliki bekal yang kuat dalam memasuki dunia kerja”, ujar Sulman.
Ia menegaskan bahwa selain ijazah formal, siswa juga perlu memiliki sertifikat kompetensi sebagai dokumen pendamping yang dapat meningkatkan daya saing di dunia industri.
Sementara itu, Safria Sahlan menyampaikan bahwa program sertifikasi kompetensi ini merupakan bagian dari Program 1 Juta Sertifikasi Kompetensi untuk Anak Bangsa Tahun 2026. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi seluruh anak bangsa untuk memperoleh pengakuan kompetensi sesuai kebutuhan industri, terutama dalam mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Melalui kerja sama ini, kedua pihak berharap pelaksanaan sertifikasi kompetensi dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan tenaga kerja Indonesia yang profesional, unggul, dan kompeten, sekaligus mendukung percepatan transisi energi nasional. (Red)
















