klikfakta38 – Ada satu hal yang mestinya tak perlu diragukan lagi dari sebuah media, kita bisa mempercayainya. Tapi belakangan, kepercayaan itu justru jadi barang langka. Coba tanyakan pada diri sendiri, kapan terakhir kali membaca sebuah berita online dan langsung yakin isinya benar, tanpa perlu mengecek ulang ke sumber lain?
Bagi banyak orang, jawabannya sudah lama sekali. Media online tumbuh subur dengan kecepatan, tapi kecepatan itu pelan-pelan menggerus fondasi yang seharusnya jadi alasan orang datang ke mereka: kredibilitas.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan pembaca yang cerewet. Data dari lembaga riset media paling disegani di dunia menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap berita benar-benar sedang berada di titik nadir.
Dan yang lebih menyedihkan, penurunan ini terjadi justru ketika arus informasi lebih deras dari kapan pun sebelumnya. Semakin banyak berita yang beredar, semakin sedikit yang dipercaya. Ironi ini yang membuat media online perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan bertanya jujur pada diri sendiri, masih layakkah kami dipercaya?
Kepercayaan yang Terus Merosot, Bukan Sekadar Persepsi
Reuters Institute for the Study of Journalism dalam laporan digital news report 2026 mencatat bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap berita secara global turun menjadi 37%, angka terendah sejak pengukuran dimulai pada 2015. Penurunan kepercayaan tercatat di 29 dari 48 pasar yang disurvei, bahkan di 19 pasar penurunannya mencapai sedikitnya lima poin persentase. Pada saat yang sama, media sosial dan jaringan video semakin mendominasi konsumsi berita daring.
Untuk pertama kalinya, rata-rata 54% responden menggunakan platform tersebut untuk mengakses berita, melampaui situs web dan aplikasi organisasi berita yang digunakan oleh 51% responden.
Temuan ini menunjukkan perubahan mendasar dalam cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kepercayaan publik terhadap berita dipertahankan di tengah perubahan ekosistem media digital.
Newman dan timnya juga menyoroti pergeseran perilaku yang tak kalah mengusik, publik kini semakin banyak mengonsumsi berita lewat kreator dan influencer di media sosial, bukan lewat media resmi.
Meski audiens umumnya menilai kreator lebih menghibur, lebih mudah dipahami, dan lebih mudah diakses dibanding media arus utama, mereka tetap dianggap kurang bisa dipercaya dan kurang berimbang dibanding jurnalis setidaknya bagi mereka yang belum terbiasa mengikuti kreator tersebut. Ini artinya publik sebenarnya masih punya standar soal apa itu berita yang bisa dipercaya.
Masalahnya, media online sering kali tidak lagi memenuhi standar itu sendiri, sementara ruang yang mereka tinggalkan justru diisi oleh pihak lain yang tak selalu punya tanggung jawab jurnalistik.
Ketika Kecepatan Mengalahkan Ketelitian
Persoalan kredibilitas media online tak lepas dari cara mereka bekerja sehari-hari. Dorongan untuk menjadi yang tercepat sering kali membuat proses verifikasi jadi korban pertama. Dekan Columbia Journalism School sekaligus penerbit Columbia Journalism Review, Jelani Cobb, dalam pidato kuliah umum Reuters Memorial Lecture 2025 di Oxford, menawarkan cara pandang yang menusuk soal ini.
Menurutnya, yang membedakan kebohongan politik biasa dengan kebohongan gaya demagog bukan sekadar isinya, melainkan betapa mudah dan derasnya kebohongan itu terus mengalir ke publik.
Cobb menegaskan bahwa persoalan media bukan cuma soal publik yang tidak lagi percaya media arus utama, melainkan justru sebaliknya, publik memberi kepercayaan pada sumber informasi lain yang justru tidak jujur. Ia menyebutnya sebagai bukan semata krisis kredibilitas, melainkan juga krisis “kredulitas” kecenderungan publik untuk mudah percaya pada informasi yang keliru.
Titik krusialnya di sini, ketika media online berlomba mengejar kecepatan dan jumlah klik tanpa menjaga ketelitian, mereka justru ikut membuka jalan bagi disinformasi untuk tampil lebih meyakinkan di mata publik yang sudah telanjur lelah dan sinis pada berita “resmi”.
Menjaga Kredibilitas Berarti Berani Mengakui Perubahan Audiens
Kabar baiknya, krisis ini bukan tanpa jalan keluar. Margaret Sullivan, mantan editor publik The New York Times yang kini menjadi kolumnis media untuk The Guardian sekaligus pengelola newsletter American Crisis, punya pandangan yang cukup membumi soal ke mana sebenarnya kepercayaan publik mengalir belakangan ini.
Dalam tulisannya di penghujung 2025, ia mencatat bahwa banyak pembacanya menumpahkan kekecewaan, bahkan kemarahan, pada media arus utama bukan karena mereka membenci jurnalisme, melainkan karena muak dengan kepemilikan korporasi atau taipan media yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan bisnis ketimbang kepentingan publik.
Di tengah kekecewaan itu, Sullivan menyoroti fenomena yang jarang mau diakui institusi media besar, jurnalis independen yang membangun audiensnya sendiri di platform seperti Substack justru jauh lebih piawai menumbuhkan rasa percaya dan loyalitas pembaca dibanding media korporasi.
Ia mengutip pernyataan seorang koleganya yang merangkum persoalan ini dengan sederhana namun tajam bahwa ini bukan soal rumus rahasia, melainkan semata karena kebiasaan audiens sudah berubah.
Titik ini penting bagi media online, kredibilitas tak lagi cukup dijaga lewat besarnya nama institusi, melainkan lewat kedekatan personal, konsistensi, dan kejujuran dalam melayani pembaca dari waktu ke waktu sesuatu yang justru lebih mudah dirasakan publik dari sosok jurnalis yang mereka kenal, ketimbang dari logo media yang mereka anggap jauh dan tak lagi berpihak pada mereka.
Kredibilitas bukan aset yang sekali dibangun lalu bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus terus dirawat, terutama di tengah ekosistem digital yang membuat siapa pun bisa menerbitkan apa saja dalam hitungan detik.
Media online yang ingin bertahan bukan hanya sebagai penyedia informasi tercepat, tetapi juga sebagai sumber yang benar-benar dipercaya, mau tidak mau harus kembali ke hal paling dasar: verifikasi yang cermat, keterbukaan proses, dan keberanian mengutamakan kebenaran di atas kecepatan semata. Sebab pada akhirnya, pembaca akan selalu kembali ke tempat yang membuat mereka merasa tidak perlu ragu.

























