Ketegangan di Timur Tengah Memanas: Harga BBM di Indonesia Mulai Merangkak Naik

KLIKFAKTA38 – JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah sejak akhir Februari 2026 kini mulai berdampak nyata pada sektor energi di Indonesia. Per hari ini, Selasa (3/3/2026), harga sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di berbagai SPBU tanah air resmi mengalami penyesuaian naik.

‎Pemicu Utama: Penutupan Selat Hormuz

banner 325x300

‎Konflik ini mencapai puncaknya setelah serangan udara besar-besaran yang diluncurkan AS dan Israel ke wilayah Teheran pada 28 Februari lalu. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengambil langkah ekstrem dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

‎Akibatnya, harga minyak mentah global jenis Brent melonjak drastis melewati angka US$ 80 hingga US$ 100 per barel. Lonjakan ini menjadi beban berat bagi Indonesia yang merupakan negara pengimpor minyak (net importer).

Baca juga: Korupsi Lahan Rp348 Miliar, Eks Direktur Umum Pertamina Luhur Budi Djatmiko Divonis 1,5 Tahun Penjara ‎

Dampak Langsung di SPBU Indonesia

‎Per 1 Maret 2026, PT Pertamina (Persero) dan penyedia BBM swasta lainnya seperti Shell dan Vivo telah melakukan penyesuaian harga. Berikut adalah rincian kenaikan rata-rata di wilayah Jabodetabek:

‎Jenis BBM Harga Lama (Februari) Harga Baru (Maret)

‎Pertamax (RON 92) Rp 11.800 Rp 12.300

‎Pertamax Green 95 Rp 12.450 Rp 12.900

‎Pertamax Turbo Rp 12.700 Rp 13.100

‎Dexlite Rp 13.250 Rp 14.200

‎Shell Super Rp 12.050

‎Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau situasi ini dengan saksama.

‎”Kenaikan ini otomatis terjadi mengikuti dinamika harga minyak dunia, mirip dengan saat perang Ukraina meletus. Namun, pemerintah telah mengamankan pasokan dari luar Timur Tengah melalui MoU dengan perusahaan energi AS seperti Chevron dan Exxon,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (2/3).

‎Ancaman Terhadap APBN

‎Meskipun BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar saat ini masih ditahan harganya, para pengamat ekonomi memperingatkan adanya risiko besar pada APBN. Jika harga minyak dunia bertahan di atas US$ 100 per barel dalam waktu lama, beban subsidi dan kompensasi energi bisa membengkak hingga lebih dari Rp 515 triliun.

‎Selain harga BBM, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang kini menembus angka Rp 16.800 juga memperparah biaya impor energi nasional. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan efisiensi penggunaan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung.

Penulis: Abduh Hanif MREditor: Hengki Revandi