Klikfakta38, PALEMBANG, SUMATERA SELATAN, Sabtu, 01-08-2026, — Keberadaan situs makam bersejarah raja-raja dan sultan di Palembang, Sumatera Selatan, kembali menjadi sorotan masyarakat dan para pencinta sejarah. Sejumlah tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, serta komunitas pelestari cagar budaya secara rutin menggelar kegiatan ziarah dan peninjauan langsung ke berbagai kompleks pemakaman leluhur Kesultanan Palembang Darussalam.
Salah satu fokus perhatian terletak pada pentingnya menjaga ingatan kolektif peradaban Palembang melalui penataan dan perawatan kompleks makam raja. Beberapa situs utama yang menjadi pilar sejarah meliputi Kompleks Makam Sabokingking, Makam Kawah Tengkurep, serta situs pemakaman raja terakhir di kawasan Sakatiga Ilir.
Upaya Menjaga Keaslian dan Nilai Histori
Budayawan dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang menekankan pentingnya akurasi data silsilah serta perawatan fisik bangunan makam. Langkah ini krusial untuk mengantisipasi kerusakan fisik maupun kekeliruan pencatatan sejarah pada nisan dan prasasti.
”Ziarah ke makam para tokoh dan leluhur merupakan bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah panjang peradaban Palembang. Sejarah harus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Staf Khusus Gubernur Sumsel, Kemas Khoirul Mukhlis, dalam sebuah agenda tinjauan sejarah.
Sementara itu, budayawan Sumsel, Vebri Al Lintani, mengungkapkan bahwa kompleks pemakaman para penguasa Palembang menyimpan nilai sejarah tinggi yang menandai fase-fase penting transisi kekuasaan, mulai dari era Kerajaan hingga Kesultanan Palembang Darussalam.
Komitmen Pelestarian Cagar Budaya
Kompleks makam raja seperti Kawah Tengkurep dan Sabokingking tidak hanya menjadi destinasi ziarah spiritual, tetapi juga pusat edukasi sejarah dan objek vital cagar budaya.
Pemerintah daerah bersama dinas terkait terus didesak untuk memperkuat koordinasi dengan pengurus makam (kuncen) dan tim ahli. Langkah ini diharapkan dapat memastikan pemeliharaan berjalan sesuai dengan aturan perlindungan cagar budaya, guna mencegah pelapukan bangunan situs akibat usia maupun faktor cuaca.














