Presiden Kolombia Serang PBB dan Trump dalam Pidato Ke PBB: “Genosida di Gaza Terus Berlanjut”

KLIKFAKTA38 – New York, 23 September 2025 — Dalam pidato berapi-api di Sidang Umum PBB ke-80, Presiden Kolombia Gustavo Petro menuding bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menjadi “kaki tangan genosida” terhadap rakyat Palestina di Gaza. Ia juga melayangkan kecaman pedas terhadap Presiden AS Donald Trump, yang menurutnya turut menyuburkan tindak kekerasan dalam konflik tersebut.

Tuduhan terhadap PBB: Komplisitas dalam Genosida

banner 325x300

Petro membuka pidatonya dengan kritik keras terhadap PBB sebagai lembaga yang gagal menjalankan mandat kemanusiaannya. Menurutnya, banyak keputusan PBB, khususnya dalam konflik Gaza, tampak “dibungkus” oleh agenda kekuatan besar sehingga tidak pernah benar-benar melindungi warga sipil Palestina.

“Bangsa-bangsa besar menggunakan lembaga ini untuk menutupi pembantaian,” ujar Petro.

“PBB hari ini menjadi saksi bisu — bahkan kaki tangan — dari genosida yang berlangsung.”

Dalam sorotan khusus, ia menyatakan bahwa hak veto dan ketergantungan terhadap negara-negara besar menjadikan PBB tak ubahnya panggung diplomasi kosong tanpa keberpihakan moral nyata terhadap korban kemanusiaan.

Trump, Ancaman Terbuka dan “Keterlibatan dalam Genosida”

Petro selanjutnya menyerang Presiden Trump secara langsung. Menurutnya, kebijakan luar negeri Trump telah memperkuat belenggu militerisme dan mendukung tindakan Israel yang menurut Petro merupakan “genosida”. Ia menyebut bahwa Trump tidak hanya “memperbolehkan” pemboman terhadap warga sipil di Gaza, tetapi juga telah mengarahkan ancaman terhadap negara-negara yang berani melawan narasi AS.

Dalam pidatonya, Petro bahkan menyerukan agar tentara Amerika Serikat “membangkang terhadap perintah Trump”, seruan yang langsung memicu kontroversi diplomatik.

Sebagai respons atas pidato tersebut, Departemen Luar Negeri AS kemudian mengumumkan pencabutan visa Presiden Petro karena dianggap melakukan “tindakan provokatif”.

Ajakan Intervensi Internasional “Melampaui PBB”

Petro mengungkapkan bahwa diplomasi konvensional telah gagal. Di hadapan forum PBB, ia mengusulkan pembentukan pasukan internasional yang “kuat dan independen” dari mekanisme PBB — suatu langkah drastis untuk melindungi rakyat Palestina.

“Kata-kata tidak cukup lagi. Saatnya mengerahkan pedang Bolívar untuk membebaskan Palestina,” tegasnya, mengutip pahlawan kemerdekaan Amerika Latin.

Ia menyebut bahwa negara-negara yang menolak genosida harus bersatu, membawa “senjata dan tentara”, bukan dalam bentuk pasukan PBB konvensional, melainkan melalui sistem alternatif yang tidak dapat dibendung oleh veto.