Dari Persoalan Sepele, Perselisihan di Pekanbaru Berujung Laporan Polisi

Pelapor menyebut adanya dugaan intimidasi dalam lingkup keluarga, disertai tekanan verbal hingga perlakuan yang dinilai tidak layak.

Proses penanganan kasus terus berjalan. Petugas Unit PPA Kota Pekanbaru mendatangi kediaman pelapor untuk menggali keterangan lebih lanjut terkait dugaan intimidasi yang dilaporkan.

Klikfakta38, Pekanbaru, 26 April 2026. Di momen Lebaran yang seharusnya menjadi waktu saling memaafkan dan mempererat hubungan, sebuah perselisihan dalam lingkup keluarga di Pekanbaru justru berujung pada laporan hukum setelah diduga disertai tindakan intimidasi.

Peristiwa tersebut dialami oleh seorang perempuan berinisial GRU bersama suaminya, AD, di kawasan Jalan Harapan Baru. GRU yang bertindak sebagai pelapor menuturkan, kejadian terjadi pada Rabu (25/3/2026) sore, saat suasana Idul Fitri masih berlangsung.

banner 325x300

Menurut GRU, persoalan bermula dari dua bungkus kuah sate sisa Lebaran yang disimpan di dalam kulkas. Hal yang tampak sepele itu kemudian memicu pertanyaan dari pihak keluarga. Namun, jawaban bahwa makanan tersebut kemungkinan telah dibuang justru memantik ketegangan.

Situasi berubah cepat ketika salah satu terlapor berinisial SM mendatangi kamar dengan nada tinggi. Ketegangan meningkat setelah pintu kamar disebut dibuka secara paksa, disusul tindakan membuka kulkas tanpa izin.

Tak lama berselang, terlapor lain berinisial FU turut masuk ke dalam ruangan. GRU menyebut, FU diketahui merupakan dosen pada Fakultas Kedokteran di salah satu universitas swasta Islam di Pekanbaru. Dalam ruang yang seharusnya menjadi wilayah privat, tekanan verbal disebut terus berlangsung dan berkembang menjadi dugaan tindakan intimidatif.

Dalam kondisi tersebut, AD mengaku sempat terjadi dorongan yang menyebabkan GRU terjatuh. Diketahui, GRU tengah mengalami gangguan penglihatan akibat glaukoma, sehingga kondisi tersebut dinilai membuat situasi yang terjadi semakin berisiko.

Tidak hanya itu, GRU dan AD juga disebut diminta mengambil kembali sisa makanan dari tempat sampah dan mengonsumsinya.

Rangkaian peristiwa itu, menurut keterangan mereka, disertai ucapan-ucapan bernada penghinaan yang membuat situasi semakin tidak terkendali. Tekanan yang dirasakan mendorong keduanya mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah pada malam hari.

“Kami pergi bukan karena keinginan sendiri, tetapi karena situasi yang tidak lagi aman,” ujar AD.

Peristiwa tersebut telah dilaporkan oleh GRU ke pihak kepolisian di wilayah Bukit Raya. Selain itu, laporan juga disampaikan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) guna mendapatkan pendampingan dalam proses hukum yang berjalan.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Bukit Raya, Kompol Hendrix SH MH, belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.

Pihak pelapor menyatakan akan melengkapi laporan dengan sejumlah bukti tambahan, termasuk hasil pemeriksaan medis, sebagai bagian dari upaya memperkuat penanganan perkara.

Hingga berita ini diturunkan, pihak terlapor juga belum memberikan tanggapan resmi.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena tidak hanya menyangkut relasi dalam keluarga, tetapi juga menghadirkan ironi ketika latar belakang profesi yang seharusnya menjunjung nilai kemanusiaan justru disebut hadir dalam situasi yang dipersoalkan. Kasus ini kini akan diuji melalui proses hukum yang berjalan.