Klikfakta38, Ketenangan warga Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, terus terganggu akibat gelombang serangan monyet liar yang meluas ke area pemukiman padat penduduk sejak dua pekan terakhir. Hingga awal Agustus 2026, sedikitnya 15 warga termasuk lansia, anak-anak, dan balita—dilaporkan mengalami luka robek serius akibat gigitan serta cakaran primata tersebut.
Serangan terjadi di berbagai titik pemukiman, seperti Lorong Bintan, Parit 13, Parit 14, Lorong Kubur, hingga Jalan Pangeran Hidayat. Satwa tersebut masuk ke area permukiman, melompati atap rumah, hingga menerobos ke dapur warga sebelum melancarkan serangan mendadak. Para korban terpaksa dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan untuk penanganan medis intensif serta suntikan suntikan antirabies.
Ruang Hidup Menyempit Akibat Deforestasi
Aktivis lingkungan dan akademisi menilai maraknya konflik antara manusia dan satwa di Indragiri Hilir bukan sekadar fenomena kebetulan. Kerusakan lingkungan—khususnya pembalakan hutan (deforestasi) dan alih fungsi lahan hutan mangrove/gambut menjadi kawasan perkebunan serta pemukiman—ditengarai menjadi akar masalah hilangnya rantai makanan dan ruang hidup alami satwa.
Penyempitan bentang alam secara masif memaksa kelompok monyet keluar dari wilayah habitat aslinya untuk mencari sumber pakan ke kawasan permukiman terdekat.
“Kerusakan habitat dan berkurangnya ruang hidup satwa merupakan salah satu faktor paling krusial yang memicu konflik ini. Satwa kehilangan sumber pakan alaminya di hutan yang terus menyusut,” ujar Aktivis Lingkungan Inhil, Zainal Arifin Hussein.
Upaya Penanganan Tim Gabungan
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bergerak merespons krisis ini. Tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat), BPBD, TNI, Polri, serta komunitas berburu lokal dikerahkan untuk melakukan patroli, menyisir lorong pemukiman, hingga memasang perangkap.
“Kami terus melakukan penyisiran terpadu dan mengimbau warga agar tetap waspada, menutup pintu dan jendela rumah, serta tidak memprovokasi satwa jika melintas,” tegas pejabat Pemkab Inhil. Pemkab Inhil juga memastikan seluruh biaya pengobatan korban gigitan satwa liar ini ditanggung oleh pemerintah daerah.
Meskipun langkah penanganan darurat telah dilakukan, pegiat lingkungan mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan pemulihan ekosistem hutan di Indragiri Hilir. Tanpa adanya tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan hutan, konflik serupa diprediksi akan terus berulang di masa mendatang.



















