KLIKFAKTA38 – Jakarta, 5 Juni 2025 — Sistem pembayaran digital lintas negara yang diusung Bank Indonesia (BI) lewat QR Code Indonesian Standard (QRIS) terus menunjukkan geliatnya di kawasan Asia Tenggara. Langkah agresif Indonesia menggandeng berbagai negara, termasuk Thailand, Malaysia, Singapura, dan yang terbaru Filipina serta Jepang, dalam integrasi sistem pembayaran berbasis QR membuat Amerika Serikat mulai menunjukkan kekhawatiran.
Pasalnya, QRIS bukan sekadar alat transaksi domestik. Melalui skema integrasi regional yang memungkinkan pembayaran lintas negara dalam mata uang lokal (local currency transaction/LCT), QRIS dinilai bisa menjadi alat strategis yang mengurangi ketergantungan negara-negara Asia terhadap dolar AS.
Ancaman bagi Dominasi DolarPengamat geopolitik ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Dimas Rahardjo, menyebut bahwa inisiatif semacam QRIS bisa menjadi “langkah kecil namun signifikan” dalam de-dolarisasi, terutama di kawasan ASEAN yang mulai menyadari kerentanan ekonomi akibat dominasi dolar.
“Bayangkan, pelancong dari Indonesia bisa belanja di Bangkok cukup scan QRIS dari aplikasi lokalnya, dan pembayarannya dilakukan dalam rupiah yang langsung dikonversi ke baht tanpa peran dolar sama sekali,” ujar Dimas.
Situasi yang disebut-sebut memicu kekhawatiran di Washington. Beberapa analis kebijakan luar negeri AS bahkan menyebut Asia Tenggara sebagai “front baru” dalam perebutan pengaruh mata uang global.
QRIS Masuk Radar AS
Laporan lembaga think tank AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang dirilis bulan lalu menyebutkan bahwa “penguatan sistem pembayaran lokal dan regional di Asia Tenggara bisa melemahkan hegemoni finansial Amerika Serikat dalam jangka panjang.
”Walaupun belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih, beberapa sumber diplomatik menyebutkan bahwa AS kini memantau dengan cermat langkah-langkah digitalisasi sistem pembayaran di ASEAN, termasuk masuk peran aktif Indonesia dalam membangun “jaringan pembayaran non-dolar.
”Potensi QRIS Meluas ke BRICS?
Yang paling membuat Amerika Serikat waspada adalah potensi QRIS atau sistem serupa diintegrasikan dengan negara-negara BRICS. Jika Indonesia berhasil menjembatani kerja sama sistem pembayaran lintas blok, bukan tidak mungkin lahir “mata uang digital bersama” atau setidaknya sistem pembayaran yang sepenuhnya menghindari dolar.
“Dalam jangka menengah, kekuatan ekonomi seperti Tiongkok, India, Brasil, dan Rusia sangat berkepentingan mendukung alternatif sistem seperti QRIS. Ini jelas bikin AS tidak nyaman,” kata Dimas.
Menuju Dunia Multipolar Finansial
Sistem pembayaran seperti QRIS bukanlah senjata geopolitik dalam arti konvensional, namun justru menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam mendorong tatanan ekonomi multipolar. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, negara-negara berkembang semakin terdorong mencari kemandirian sistemik, termasuk dalam hal moneter.
Dengan semakin banyak negara yang tertarik mengadopsi sistem pembayaran regional dan bilateral berbasis mata uang lokal, dominasi dolar tampaknya mulai menghadapi tantangan serius — dan QRIS adalah salah satu pemicunya.













