Warta Sasambo, Taliwang – Dalam upaya mewujudkan sekolah yang ramah anak, inklusif, dan mampu memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik, SDN 1 Taliwang menggelar “Workshop Peningkatan Kompetensi Guru tentang Pendidikan Inklusif”. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang berpusat pada kebutuhan setiap anak.
Baca Juga: Festival Kampung Dongeng Lombok Hadirkan Ruang Kebersamaan Keluarga
Dalam sambutannya, Kepala SDN 1 Taliwang menyampaikan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima semua anak di sekolah, tetapi juga memastikan setiap peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Menurutnya, kegiatan workshop ini merupakan salah satu bentuk intervensi dan strategi sekolah dalam mendukung implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) sekaligus meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan yang inklusif.
Baca Juga: Mantan Pimpinan Bank Sumsel Babel Ditahan Kejati Usai Pulang Haji, Terseret Kasus Dugaan Korupsi KUR
“Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan dapat mengasah kembali kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan mereka dalam memahami keberagaman peserta didik serta menerapkan pendekatan pembelajaran yang adaptif, humanis, dan berpihak pada kebutuhan setiap anak. Kami ingin memastikan seluruh guru memiliki kesiapan dan kompetensi yang memadai dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah, inklusif, dan berkualitas,” ujarnya.
Pada sesi pertama, fasilitator “Hj. Hibatullah, S.Pd.SD., M.Pd.”, selaku Korwil UPT Kecamatan Taliwang, menyampaikan materi bertajuk “Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset): Kunci Sukses Pembelajaran Mendalam dan Pengembangan Karakter Siswa.”
Dalam paparannya, Hj. Hibatullah menekankan bahwa pola pikir bertumbuh merupakan fondasi penting dalam membangun karakter peserta didik dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurutnya, kemampuan dan kecerdasan seseorang tidak bersifat tetap, melainkan dapat terus berkembang melalui proses belajar, latihan, kerja keras, dan ketekunan.
“Guru memiliki peran strategis dalam menumbuhkan keyakinan pada diri siswa bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk belajar dan berkembang. Ketika pola pikir bertumbuh tertanam, siswa tidak mudah menyerah, lebih berani mencoba hal baru, dan memiliki motivasi belajar yang lebih kuat,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa konsep “growth mindset” sangat relevan dengan implementasi pembelajaran mendalam yang saat ini menjadi fokus penguatan pendidikan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya dituntut memahami materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta memiliki karakter yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menurutnya, guru perlu menciptakan suasana belajar yang positif, menghargai setiap proses yang dilakukan siswa, dan memberikan umpan balik yang membangun agar peserta didik merasa aman untuk belajar dari kesalahan serta terus meningkatkan kemampuannya.
Baca Juga: Ratusan Kepala Sekolah di Sulsel Ajukan Pengunduran Diri, Diduga Terkait Temuan BPK
“Pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter kuat, percaya diri, pantang menyerah, dan siap menghadapi masa depan,” tegas Hj. Hibatullah.
Sesi berikutnya menghadirkan “Afiana Sukaningsih, S.Pd”, Guru Kelas SMALB Tuna Rungu sekaligus Guru Keterampilan Tata Busana di SLBN 1 Sumbawa Barat. Dalam materinya tentang pendidikan inklusif, Afiana menjelaskan pentingnya pemahaman guru terhadap keberagaman karakteristik peserta didik serta strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan semua anak.
Menurutnya, pendidikan inklusif tidak hanya berarti membuka akses pendidikan bagi seluruh peserta didik, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya masing-masing.
“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. Melalui workshop ini, kami ingin meningkatkan kapasitas guru agar mampu memberikan layanan pembelajaran yang lebih humanis, adaptif, dan berpihak pada kebutuhan peserta didik,” ujar Afiana.
Baca Juga: Ironi Pembelaan Anak di NTT: Lindungi Ibu dari Palakan Preman, Berujung di Balik Jeruji Besi
Ia menambahkan bahwa guru perlu memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, serta menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel agar seluruh peserta didik dapat berkembang secara optimal tanpa merasa terdiskriminasi.
Kegiatan workshop berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai diskusi dan sesi berbagi pengalaman menjadi ruang bagi para guru untuk memperkaya wawasan sekaligus menemukan solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Melalui workshop ini, SDN 1 Taliwang menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan profesionalisme guru serta menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah, dan inklusif bagi seluruh peserta didik. Dengan kompetensi guru yang semakin kuat, sekolah berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, mandiri, dan menghargai keberagaman. (WS)














