klikfakta38.com
–
Inilah empat konsekuensi dari perselingkuan terhadap pasangan. Faktanya, harus sangat berhati-hati sebab bisa menyebabkan dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis.
Perilaku zina di dalam perkawinan tidak hanya menyakitkan bagi perasaan pasangan, namun juga memiliki dampak buruk pada kesehatan mental. Apabila ada yang melakukan perselingkuhan, orang tersebut mungkin akan mengalami rasa malu, kecurigaan, serta manipulasi dari pasangannya.
Bukan hanya itu saja, keadaan psikis dari individu yang bermain cinta juga dapat dipengaruhi oleh tindakan pengkhianatan dalam hubungannya. Reputasinya mungkin rusak dan perasaannya menjadi tertekuk saat menghadapi suatu hubungan didominasi oleh ketidakjujuran.
Berbagai alasan bisa memicu seseorang untuk berselingkuh walaupun mereka sudah menikah. Menurut Dr Rahul Khemani, seorang spesialis jiwa dari Rumah Sakit Wockhardt, Mumbai, India, perilaku selingkuh ini telah terjadi seiring dengan berkembangnya lembaga perkawinan itu sendiri.
Meskipun begitu, perselingkuhan tak selalu mencerminkan ada masalah besar di dalam rumah tangga. Kadang-kadang, perilaku tersebut dapat disebabkan oleh hubungan emosi yang lemah, enggan menyikapi pertikaian, atau rasa tidak puas terkait aktivitas intim yang berlangsung lama.
Kesepian, konflik yang muncul secara berkala sepanjang tahun-tahun tersebut, serta keinginan untuk mengeksplorasi identitas melalui peran pihak ketiga merupakan faktor utama lainnya. Ada juga individu yang memandang perselingkuhan sebagai metode “untuk menyegarkan diri” atau hanya karena merasa memiliki peluang untuk melakukan hal itu.
“Perselingkuhan sering ditutup-tutupi dengan kebohongan, rahasia, serta rasa takut akan ketahuan,” ungkap Dr Khemani. Dia menyebutkan bahwa kondisi demikian malahan bisa membentuk pola berkelanjutan yang membuat orang tersebut semakin susah untuk menghindari tindakan tersebut.
Apabila perselingkuhan berjalan untuk periode yang lama, orang tersebut akan selalu dilanda ketidaknyamanan dan kecemasan. Contohnya, dia mungkin bertanya-tanya tentang kewajiban mengatakan kebenaran kepada pasangan, atau memutuskan untuk merahasiakan segala sesuatunya, serta khawatir dengan dampak dari perbuatannya.
Berikut ini merupakan beberapa dampak negatif bagi kesehatan mental orang yang berselingkuh:
1. Rasa Bersalah
Walau merasa senang ketika bertemu dengan orang lainnya, individu tersebut masih dapat diliputi perasaan bersalah terkait pasangannya secara resmi. Kondisi itu mampu mengacaukan emosinya, memperlemah kepercayaan diri, serta menciderai martabatnya. Secara bertahap, beban kesalahan yang semakin lama menjadi besar ini bisa menyebabkan tekanan hebat dan pertarungan batin.
2. Ketakutan Terus-Menerus
Kecemasan berkelanjutan tidak baik untuk kesejahteraan mental kita. Rasa takut diketahui selingkuh mungkin menimbulkan perasaan paranoid dan stres psikologis tambahan. Keresahan mengenai konsekuensinya pada hubungan pasangan, anggota keluarga, dan status sosial bisa memperburuk rasa cemas seseorang serta menciptakan masalah emosi.
3. Kelelahan Mental
Apabila perasaan bersalah dikombinasikan dengan ketakutan konstan, hal tersebut dapat menghasilkan lelah emosi yang amat parah. Terlebih lagi apabila pasangan simpanan juga membebani Anda dengan tekanan atau harapan berlebihan. Hidup dalam suatu hubungan di mana Anda harus menjalin ikatan dengan dua individu sekaligus tentunya sungguh membuat letih dan bertekanan tinggi.
4. Keruntuhan Harga Diri
Memikir terus-menerus tentang konsekuensi buruk selingkahan bisa merusak martabat seseorang. Perasaan malu, bersalah, serta stres yang berlebihan mampu menjadikan orang tersebut merasa down, gelisah, hingga jatuh ke dalam kondisi depresi.
Dr Khemani menyebutkan, “Selingkungan diluar perkawinan umumnya dibarengi dengan perasaan malu, ketakutan, dan rasa bersalah yang sangat kuat. Hidup dalam dua dunaya membutuhkan pengambilan keputusan yang rumit dan penuh risiko terhadap lelah psikologis serta bosan.”
Dia menegaskan bahwa ketakutan atas keruntuhan keluarga, termasuk cedera emosional yang dialami oleh pasangan dan anak-anak, dapat menciptakan penderitaan mental yang sangat berat. Karenanya, metode optimal untuk mencegahi hal tersebut adalah dengan memilih kesetiaan dan menjalin dialog positif di dalam perkawinan. (*)













