Pidato Haru Prabowo di PBB: “Kami Pernah Dijajah dan Diperlakukan Lebih dari Anjing di Tanah Air Kami”

KLIKFAKTA38 – New York – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang penuh emosi sekaligus membangkitkan rasa bangga di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa [23/9]. Dalam forum internasional yang dihadiri para pemimpin dunia itu, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang lahir dari penderitaan, namun mampu bangkit dengan kehormatan.

Dengan suara bergetar, Prabowo mengingatkan kembali sejarah kelam penjajahan di Nusantara.

banner 325x300

“Kami pernah dijajah, kami pernah diperlakukan lebih dari anjing di tanah air kami sendiri. Tetapi dari penderitaan itu, lahirlah tekad yang tak tergoyahkan untuk merdeka, berdaulat, dan bermartabat,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang para delegasi.

Prabowo menekankan, pengalaman pahit masa lalu itu justru menjadi kekuatan moral bagi Indonesia untuk selalu berdiri di garis depan memperjuangkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan bagi semua bangsa. Ia menyebut penderitaan rakyat Indonesia di masa lalu sebagai “pelajaran paling berharga agar kita tidak pernah membiarkan bangsa manapun mengalami nasib serupa.”

Presiden juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap prinsip non-blok, solidaritas global, dan kerja sama internasional. Menurutnya, sejarah panjang kolonialisme membentuk jati diri bangsa Indonesia sebagai pembela hak-hak negara berkembang.

“Kami datang ke forum ini bukan hanya membawa kepentingan nasional, tetapi membawa suara dunia yang terpinggirkan. Kami tidak ingin ada bangsa lain yang kembali diinjak-injak martabatnya,” kata Prabowo.

Pidato tersebut menjadi salah satu momen paling emosional dalam sidang PBB tahun ini. Beberapa delegasi bahkan berdiri memberi tepuk tangan setelah Prabowo menutup pernyataannya dengan pesan kuat

“Indonesia adalah bukti bahwa bangsa yang pernah dihina, ditindas, dan disakiti, bisa bangkit menjadi bangsa yang terhormat. Dan kami akan selalu berdiri bersama mereka yang mencari keadilan.”

Pidato ini dinilai banyak pengamat sebagai langkah diplomasi yang meneguhkan posisi Indonesia di dunia: sebagai negara besar yang tidak hanya berbicara tentang kepentingannya sendiri, tetapi juga memperjuangkan martabat umat manusia