KLIKFAKTA38 – MILAN, ITALI — Gelombang unjuk rasa menentang lonjakan biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta pengeluaran militer untuk perang berujung ricuh di Milan, Italia, pada Sabtu (17/10/2026). Aksi yang diusung oleh gerakan “Italia in Piazza” bersama gabungan serikat buruh dan organisasi mahasiswa tersebut awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi bentrokan hebat di pusat kota.
Berdasarkan laporan kepolisian setempat dan liputan media internasional, ketegangan pecah di sekitar Piazza del Duomo. Kelompok demonstran melemparkan batu, bongkahan paving block, suar, serta botol ke arah barisan aparat keamanan. Polisi membalas dengan melepaskan gas air mata, menggunakan meriam air (water cannon), dan pengerahan tongkat pemukul untuk membubarkan massa.
Penjarahan dan Kerusakan Kota
Situasi kian tak terkendali ketika sebagian massa bergerak menyisir area perbelanjaan utama di Milan. Sejumlah toko dan gerai komersial dilaporkan dirusak dan dijarah. Wisatawan serta warga lokal yang berada di lokasi terpaksa berlarian mencari perlindungan di dalam gedung apartemen dan pertokoan yang menurunkan pintu besi rapat-rapat. Stasiun metro pusat Duomo juga sempat ditutup guna menghindari masuknya massa aksi.
Selain penjarahan, kendaraan polisi dan fasilitas umum di beberapa sudut jalan dibakar. Puluhan petugas kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka. Sedikitnya 28 orang ditahan pihak berwenang, di mana sebagian di antaranya merupakan remaja di bawah umur.
Respon Pemerintah dan Tokoh Politik
Kerusuhan ini langsung memicu kecaman keras dari jajaran pemerintah Italia:
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengutuk aksi anarkis tersebut dalam sebuah pernyataan resmi. “Berdemonstrasi adalah hak, namun membakar kota-kota kita bukanlah hak,” tegas Meloni. Ia menuding kelompok tertentu memanfaatkan rasa frustrasi publik terhadap isu ekonomi untuk menciptakan kekacauan.
Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, menyatakan bahwa tuntutan warga terkait lonjakan biaya hidup dan krisis ekonomi sebenarnya wajar dan dipahami. Meski demikian, ia menegaskan kekerasan terhadap aparat dan perusakan properti kota sama sekali tidak dapat ditoleransi.
Isu Pengetatan Anggaran dan Inflasi
Demonstrasi pada 17 Oktober 2026 ini merupakan puncaknya ketegangan atas melonjaknya tarif energi, sewa hunian, serta tuntutan agar pemerintah mengalihkan anggaran militer/perang ke sektor pendidikan dan kesejahteraan publik. Selain di Milan, gelombang aksi serupa juga menjangkau kota-kota lain seperti Turin dan Bologna pada akhir pekan yang sama.
Abduh HMR

















