KLIKFAKTA38 – KABUL, Untuk sebuah pemerintahan yang belum diakui secara resmi oleh satu pun negara, aktivitas diplomatik Taliban dalam beberapa pekan terakhir terbilang sangat sibuk dan strategis.
Penjabat Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, tercatat melakukan serangkaian pertemuan dan pembicaraan penting dengan para diplomat dari tiga kekuatan regional besar: Pakistan, India, dan Iran. Bahkan, Taliban juga terlibat dalam pembicaraan trilateral dengan Cina.
Jadwal Padat Muttaqi: Dari Kabul ke Beijing
Pada 19 April, Muttaqi menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Pakistan merangkap Menteri Luar Negeri Ishaq Dar di Kabul. Keduanya membahas isu krusial seperti deportasi pengungsi Afghanistan, perdagangan bilateral, dan kerja sama ekonomi.
Kemudian, 6 Mei, keduanya kembali terhubung lewat saluran komunikasi tak lama sebelum meletus ketegangan bersenjata antara India dan Pakistan, insiden yang dipicu tuduhan India atas peran Pakistan dalam serangan berdarah di Pahalgam, Kashmir.
Tak lama berselang, pada 15 Mei, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menghubungi Muttaqi. Ia menyampaikan apresiasi atas sikap Taliban yang mengecam serangan tersebut suatu langkah diplomatis yang cukup mengejutkan dari India, mengingat hubungan masa lalu yang renggang dengan Taliban.
Pada 17 Mei, Muttaqi terbang ke Teheran untuk menghadiri Forum Dialog Teheran, di mana ia bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden Massoud Pazeshkian. Lalu pada 21 Mei, ia melanjutkan lawatannya ke Beijing untuk mengikuti dialog trilateral Afghanistan-Pakistan-Cina dengan fokus pada isu perdagangan dan keamanan regional.
Taliban, dari Paria ke Pemain Diplomatik
Meski tidak ada satu pun negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban, para analis menilai bahwa banyak negara kini mengambil langkah pragmatis. Taliban, seperti dikatakan Suhail Shaheen, Kepala Kantor Politik Taliban di Doha, merupakan “realitas Afghanistan saat ini”.
“Negara-negara di kawasan ini mengetahui fakta ini dan karenanya mereka terlibat. Ini pendekatan yang pragmatis dan rasional,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Dengan posisi geografis yang strategis, kekuasaan penuh atas seluruh wilayah, serta kepentingan ekonomi dan keamanan regional yang bersinggungan, Taliban tampaknya sedang memainkan kartu diplomasi mereka dengan cukup cerdas.
Apakah ini sinyal bahwa Taliban mulai dilihat sebagai pemain kunci di kawasan? Atau hanya langkah taktis jangka pendek dari negara-negara yang punya kepentingan besar di Afghanistan?
Jawabannya mungkin belum hari ini, tapi langkah-langkah Taliban sudah membuat banyak pihak tak bisa lagi memalingkan pandangan.














