KLIKFAKTA38 – BOGOR 26 Oktober 2026 — Langkah derap mesin pengolah adonan dan aroma harum mentega panggang yang telah mengisi udara kota selama hampir satu abad kini tinggal kenangan. Memasuki akhir Oktober, pabrik biskuit legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1934 bernama Lee Biscuits asal Malaysia resmi menghentikan seluruh aktivitas operasinya secara total setelah 92 tahun berkarya memanjakan lidah masyarakat Indonesia.
Keputusan pahit ini diambil manajemen puncak menyusul tekanan ekonomi global, lonjakan harga bahan baku utama, serta perubahan pola konsumsi masyarakat yang kian bergeser ke produk serba instan dan modern. Penutupan resmi di penghujung bulan ini menandai berakhirnya era emas salah satu pelopor industri makanan ringan tertua di tanah air.
Tekanan Pasar dan Efisiensi Operasional
Direktur Utama perusahaan menyampaikan bahwa keputusan penutupan ini merupakan opsi terakhir yang terpaksa diambil setelah berbagai upaya penyelamatan dan efisiensi tidak lagi mampu menopang biaya operasional yang terus melambung.
“Ini adalah hari yang sangat berat bagi kami semua. Selama 92 tahun, tiga generasi telah bekerja keras menjaga cita rasa dan kualitas produk ini tetap hadir di tengah keluarga Indonesia. Namun, dinamika industri serta perubahan lanskap bisnis yang sangat cepat memaksa kami untuk merelokasi sumber daya dan mengakhiri produksi di fasilitas sejarah ini,” ungkapnya dalam keterangan resmi.
Seluruh hak kepatuhan dan pesangon bagi ratusan pekerja yang terdampak dipastikan akan dipenuhi sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku. Manajemen juga menjalin kerja sama dengan dinas tenaga kerja setempat untuk memfasilitasi program pelatihan ulang (re-skilling) bagi para karyawan.
Warisan Kuliner dan Kerinduan Konsumen
Bagi warga sekitar dan para pecinta kuliner lawas, kabar penutupan ini memicu gelombang nostalgia. Biskuit kaleng berdesain klasik yang kerap menjadi sajian wajib saat hari raya dan kumpul keluarga tersebut kini diprediksi akan menjadi barang langka di pasaran.
Sejarah Panjang (1934–2026): Memulai produksi berskala industri rumahan pada masa pra-kemerdekaan hingga berkembang menjadi merek nasional.
Resep Otentik: Tetap mempertahankan penggunaan resep mentega mentah dan pemanggangan tradisional selama bertahun-tahun.
Memori Kolektif: Menjadi simpul kenangan lintas generasi bagi konsumen lintas usia.
“Saya tumbuh besar dengan aroma biskuit dari pabrik ini setiap pagi. Rasanya sedih sekali mengetahui tempat yang menjadi bagian dari sejarah kota ini harus tutup,” ujar Suhandi (68), salah satu warga lokal yang telah tinggal di sekitar area pabrik selama lebih dari empat dekade.
Penghentian Distribusi Bertahap
Hingga akhir Oktober, pihak pabrik hanya merampungkan sisa pengiriman stok barang yang telah diproduksi sebelumnya ke para distributor. Produk biskuit ini diperkirakan masih bisa dijumpai di toko-toko retail hingga persediaan di pasaran benar-benar habis dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan.
Meskipun cerobong asap dan roda pemanggang pabrik legendaris ini resmi berhenti berputar, jejak manis selama 92 tahun perjalanan industrinya akan selalu mencatatkan sejarah penting dalam peta kuliner nusantara.
Yuyun Iriyanti


















