KLIKFAKTA38 – JAKARTA, 16 Januari 2026 – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen nyata dalam memajukan sektor pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dalam kebijakan fiskal terbaru, Pemerintah secara resmi menaikkan alokasi anggaran riset nasional dari yang sebelumnya Rp14 triliun menjadi Rp32 triliun.
Langkah berani ini diambil sebagai bagian dari strategi besar pemerintah untuk melepaskan diri dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) dan inovasi teknologi.
Investasi Masa Depan
Presiden Prabowo menegaskan bahwa pendidikan dan riset adalah fondasi utama bagi kedaulatan bangsa. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi harus mampu menjadi produsen inovasi.
“Kita tidak bisa menjadi bangsa yang maju jika anggaran penelitian kita masih minim. Kenaikan menjadi Rp32 triliun ini adalah investasi untuk masa depan anak cucu kita, agar mereka bisa bersaing di panggung global,” ujar Presiden dalam pidatonya di hadapan para akademisi dan peneliti di Jakarta.
Distribusi Anggaran: Fokus pada Hilirisasi dan Energi
Peningkatan anggaran sebesar lebih dari 100% ini rencananya akan dialokasikan ke beberapa sektor strategis, antara lain:
Hilirisasi Industri: Mendukung riset pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.
Ketahanan Pangan & Energi: Pengembangan benih unggul dan energi terbarukan (Bioenergi).
Beasiswa Peneliti: Peningkatan kuota pendanaan untuk riset doktoral dan kolaborasi internasional.
Revitalisasi Laboratorium: Modernisasi alat-alat penelitian di universitas dan lembaga riset negara.
Respon Positif dari Kalangan Akademisi
Keputusan ini disambut baik oleh para ilmuwan dan rektor dari berbagai universitas nasional. Kenaikan anggaran ini dinilai sebagai “angin segar” setelah sekian lama rasio belanja riset terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia berada di bawah standar negara-negara maju.
“Ini adalah lonjakan yang signifikan. Dengan dana Rp32 triliun, kita memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk melakukan penelitian fundamental maupun terapan yang langsung berdampak pada masyarakat,” ungkap salah satu peneliti senior BRIN.
Dengan kebijakan ini, Pemerintah berharap indeks inovasi Indonesia dapat meningkat tajam dalam lima tahun ke depan, sekaligus memperkuat visi Asta Cita yang diusung oleh pemerintahan Prabowo-Gibran untuk kemandirian bangsa.














