KlikFakta38 – Pekanbaru, Di tengah persiapan Musyawarah Seni Daerah (Musenda) Dewan Kesenian Riau (DKR) 2025, satu nama mengemuka dan mendapat dukungan dari tiga musisi kawakan: Eri Bob, Frengky, dan Indra Gunawan alias Engah Eet. Mereka satu suara—Benie Riaw dinilai layak menakhodai DKR menuju arah yang lebih dinamis dan inklusif.
“Benie masih sangat produktif. Karya terbarunya, drama musikal Senandung Bunian, bukan hanya pertunjukan. Ia adalah pesan kuat bahwa seni tak boleh stagnan,” ujar Eri Bob, komposer senior Riau, Senin (23/6/2025).
Menurut Eri, kepemimpinan dalam dunia seni tidak bisa hanya berpijak pada nama besar, tetapi juga pada kesinambungan karya dan kemampuan merangkul lintas genre.
“Benie bisa menggabungkan musik, tari, dan drama dalam satu karya. Itu bentuk kepemimpinan kreatif yang dibutuhkan DKR saat ini.”
Dari negeri jiran, Frengky drummer senior yang lama berkiprah di Malaysia ikut bersuara. Baginya, Ketua DKR bukan hanya figur administratif, melainkan visioner yang mampu membuka jalur kerja sama lintas wilayah dan negara.
“Benie punya jejaring nasional dan internasional. Itu penting untuk membuka peluang bagi seniman Riau, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan DKR harus bisa mengembangkan ekosistem kesenian secara menyeluruh, bukan hanya mengelola teknis kegiatan.
Sementara itu, dari Bengkalis, Engah Eet, gitaris senior yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Riau, menegaskan pentingnya DKR sebagai rumah besar para seniman.
“Seni di Riau adalah identitas. Dan DKR harus dipimpin oleh sosok yang bukan hanya paham seni, tapi juga bisa mengayomi dan menjembatani aspirasi seniman,” tegasnya.
Menurut Engah Eet, Benie memiliki kepekaan, pengalaman, dan kedekatan dengan berbagai kalangan seniman dan pemerintah, yang akan sangat dibutuhkan untuk memperkuat peran DKR ke depan.
Benie dan Visi Kesenian yang Kolektif
Menanggapi dukungan ini, Benie Riaw menyampaikan rasa terima kasih dan komitmen bahwa niatnya bukan sekadar maju, tapi membawa perubahan yang melibatkan semua pihak.
“Kebersamaan antar seniman di Riau adalah modal utama. Bila kita sudah berazam untuk berjalan bersama, sebesar apapun tantangan, pasti bisa kita cari jalan keluarnya,” ujarnya.
Benie pun memaparkan program konkret yang akan ia dorong bila dipercaya memimpin DKR:
Pendataan seniman dari seluruh kabupaten/kota, termasuk karya seniman almarhum.
Dokumentasi karya seni sebagai dasar perlindungan hak cipta dan warisan budaya.
Penyebaran kegiatan DKR ke daerah-daerah, agar tak terpusat di Pekanbaru saja.
Pembaruan AD/ART DKR, agar lebih relevan dan partisipatif.
Simfoni Menuju Masa Depan
Dari tiga nama senior, mengalir harapan yang bukan basa-basi. Mereka melihat pada diri Benie bukan hanya seniman, tapi pemimpin yang sudah membuktikan karya, membangun jejaring, dan menjaga harmoni di tengah keragaman.
Musenda DKR 2025 memang belum dimulai. Tapi gema dukungan sudah terdengar jelas. Seperti orkestra yang telah menyusun partitur, kini tinggal menunggu konduktornya berdiri di podium.
Dan dari arah panggung, satu nama mulai tegak: Benie Riaw.













