KLIKFAKTA38 – Jakarta, 1 Muharram 1447 H / 26 Juni 2025 – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah disambut hangat oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Di tengah semangat hijrah yang kian relevan, peran media massa dinilai semakin krusial dalam membentuk narasi positif dan reflektif seputar makna 1 Muharram.
Sejumlah media nasional dan lokal memanfaatkan momentum ini untuk menyajikan tayangan bertema keislaman, kajian makna hijrah, hingga sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Tak hanya dalam bentuk berita, media sosial pun ramai dengan konten inspiratif, ceramah daring, hingga testimoni perjalanan spiritual masyarakat.
“Media bukan sekadar penyampai informasi, tapi juga agen pembentuk kesadaran kolektif. Di hari besar seperti 1 Muharram, penting bagi media untuk mengedepankan nilai-nilai keislaman yang damai, adil, dan progresif,” kata Dr. Anis Ma’arif, pakar komunikasi dari UIN Jakarta, Kamis [26/6].
Ia menambahkan bahwa momentum Tahun Baru Islam adalah peluang untuk mengangkat isu-isu sosial keagamaan yang sering terabaikan. “Hijrah bukan hanya soal pindah tempat, tapi perubahan sikap, moral, dan tanggung jawab sosial. Media bisa membantu masyarakat merefleksikan itu,” ujarnya.
Sementara itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengapresiasi sejumlah media televisi dan radio yang menyiarkan program religi bertema Muharram. Ketua KPI Pusat, Lisna Mariana, menyebutkan bahwa pendekatan media yang edukatif dan inspiratif sejalan dengan semangat hijrah sebagai transformasi diri dan bangsa.
“Di era digital, peran media sangat strategis untuk memperkuat identitas keagamaan yang moderat, terbuka, dan mencerdaskan. Tahun Baru Islam harus menjadi panggung budaya yang memperkuat persatuan,” kata Lisna.
Di berbagai daerah, media lokal juga aktif memberitakan kegiatan masyarakat seperti pawai obor, tabligh akbar, serta aksi sosial menyambut 1 Muharram. Kehadiran jurnalisme yang menyuarakan nilai spiritual dan kemanusiaan menjadi angin segar di tengah dominasi berita konflik dan sensasi.
Tahun Baru Islam 1447 H ini menjadi pengingat pentingnya transformasi, baik secara pribadi maupun kolektif. Di sinilah media diharapkan mengambil posisi sebagai cermin bangsa, penyambung lidah umat, dan penuntun arah perubahan.
Melalui pemberitaan yang mendalam, narasi yang sejuk, dan platform yang inklusif, media memiliki tanggung jawab sejarah untuk meneguhkan nilai hijrah sebagai jalan perbaikan—bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh bangsa













