Jurnalisbersatu.com, Gunungsitoli – Janji perbaikan yang tak kunjung terealisasi, warga Desa Sihare’o Siwahili, Kecamatan Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli, mengambil tindakan memperbaiki sendiri ruas Jalan Lintas Gunungsitoli-Hiliduho-Alasa yang dikenal sebagai Jalan Fondrako. Aksi swadaya ini, yang dilakukan pada Selasa (1/7/2025), menjadi puncak kekecewaan setelah jalur vital tersebut dibiarkan rusak parah selama lebih dari satu dekade tanpa intervensi pemerintah.
Kondisi Jalan Fondrako yang menghubungkan Kota Gunungsitoli dengan Kecamatan Hiliduho (Kabupaten Nias) dan Kecamatan Alasa (Kabupaten Nias Utara) kini nyaris lumpuh. Lubang-lubang menganga dan kerusakan yang meluas tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.
Ama Firman Zebua, salah seorang warga yang terlibat dalam perbaikan, mengungkapkan betapa krusialnya kondisi jalan ini bagi kehidupan mereka. “Jalan lintas menuju Alasa ini sudah hampir 10 tahun tidak ada lagi perbaikan. Titik kerusakan yang melintasi desa kami kerap menyebabkan kecelakaan tunggal, apalagi saat hujan deras,” ujarnya kepada awak media di lokasi. Pernyataan Ama Firman menggarisbawahi urgensi masalah ini, mengingat frekuensi kecelakaan yang terus meningkat akibat infrastruktur yang tidak layak.
Jalan ini bukan sekadar jalur penghubung, melainkan urat nadi ekonomi dan sosial bagi masyarakat di tiga wilayah tersebut. Kerusakannya berarti melumpuhkan akses pendidikan, kesehatan, dan pergerakan barang dan jasa, yang pada akhirnya memicu isolasi dan stagnasi pembangunan di daerah itu.
Ama Apo, koordinator perbaikan jalan, menjelaskan bahwa aksi swadaya ini murni inisiatif warga dengan biaya yang dikumpulkan secara mandiri. “Kami bersama warga berinisiatif memperbaiki beberapa titik kerusakan di jalan lintas menuju Alasa ini dengan biaya dari partisipasi warga,” terang Ama Apo. Ia menambahkan, antusiasme warga sangat tinggi, terutama karena bertepatan dengan libur sekolah.
Inisiatif warga ini, di satu sisi menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa, namun di sisi lain juga menyiratkan kegagalan pemerintah daerah maupun pusat dalam menjalankan amanah pembangunan infrastruktur. Pertanyaan besar muncul: Mengapa jalan utama penghubung antar-kabupaten/kota ini luput dari perhatian selama satu dekade?
Jalan Fondrako, yang seharusnya menjadi simbol kemajuan dan konektivitas, kini menjadi cerminan dari kelalaian pembangunan. Kondisi ini mendesak perhatian serius dan tindakan konkret dari pemerintah, baik provinsi maupun pusat, untuk segera mengalokasikan anggaran dan melakukan perbaikan menyeluruh.
Warga Desa Sihare’o Siwahili telah menunjukkan komitmen mereka untuk pembangunan, kini saatnya pemerintah merespons dengan tanggung jawab yang setara. Jangan sampai keterlibatan masyarakat dalam memperbaiki infrastruktur dasar justru menjadi bukti ketidakmampuan negara dalam memenuhi hak dasar warganya atas fasilitas publik yang layak.














