Iran Diisukan Hadiahkan Rp100 Miliar untuk Kepala Donald Trump, Pemerintah Belum Beri Konfirmasi Resmi

KLIKFAKTA38 – Teheran – Sebuah isu kontroversial kembali mengemuka dari Iran. Laporan yang beredar di beberapa media internasional menyebut adanya sayembara ekstrem yang disebut-sebut diumumkan oleh elemen tertentu di Iran. Mereka menjanjikan hadiah sebesar 100 Miliar rupiah (sekitar 18,5 miliar toman Iran) bagi siapa pun yang dapat “membunuh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.”

Laporan ini pertama kali mencuat dari media sosial dan disusul sejumlah situs berita Timur Tengah, yang mengaitkannya dengan upaya balas dendam atas tewasnya Jenderal Qassem Soleimani—komandan Pasukan Quds Iran yang tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada Januari 2020.

banner 325x300

Hingga saat ini, pemerintah Iran secara res5.mi belum mengonfirmasi atau menyangkal adanya pengumuman tersebut. Namun, sejumlah pejabat tinggi Iran dalam berbagai kesempatan memang pernah menyuarakan seruan balas dendam terhadap Trump, yang dianggap bertanggung jawab langsung atas kematian Soleimani.

AS Kecam dan Perketat Keamanan

Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS menanggapi laporan ini dengan kecaman keras. “Segala bentuk ancaman terhadap pemimpin atau warga negara Amerika merupakan tindakan terorisme,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, seraya menegaskan bahwa keamanan Trump dan mantan pejabat senior lainnya telah diperketat.

Sejumlah pengamat menilai kabar sayembara ini kemungkinan besar merupakan propaganda dari kelompok garis keras dan tidak mewakili kebijakan resmi negara. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa narasi semacam ini tetap berbahaya dan dapat memicu ketegangan internasional.

Kontroversi dan Tanggapan Internasional

Sejumlah negara dan lembaga HAM mengutuk keras segala bentuk kekerasan politik. PBB belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun sumber diplomatik menyatakan bahwa tindakan semacam ini dapat masuk kategori hasutan terhadap kekerasan lintas negara.

Isu ini terus dipantau ketat oleh berbagai pihak mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan hubungan AS-Iran yang sudah lama tegang.

Penulis: Abduh Hanif MREditor: Hengki Revandi