KLIKFAKTA38 – Jakarta, 17 Oktober 2025 —Hujan yang selama ini dianggap sebagai aliran alam yang “bersih” kini menampakkan sisi kelamnya di ibu kota. Hasil penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa air hujan di kawasan Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya.
Temuan Utama
Sejak mulai pemantauan pada 2022, tim peneliti BRIN menemukan bahwa setiap sampel air hujan yang dikumpulkan di beberapa titik di Jakarta mengandung mikroplastik.
Karakteristik partikel: umumnya berupa serat sintetis dan fragmen plastik kecil, terutama dari polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena (bahkan berasal dari ban kendaraan).
Angka pengamatan yang disebut: rata-rata sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari di kawasan pesisir Jakarta.
Mekanisme terjadi: plastik yang terbuang atau terdegradasi di darat, debu dari kendaraan, sisa pembakaran limbah plastik terbawa angin ke atmosfer, lalu “turun kembali” bersama air hujan — fenomena yang dikenal sebagai deposisi atmosferik mikroplastik.
Dampak Potensial
Meskipun air hujan itu sendiri tidak otomatis berbahaya, bahaya muncul dari partikel mikroplastik yang mengandung aditif kimia (misalnya ftalat, BPA) atau memiliki kemampuan menyerap polutan lain.
Mikroplastik ukuran sangat kecil ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara yang terhirup, air, atau makanan yang terkontaminasi. Studi global telah menunjukkan risiko seperti stres oksidatif, gangguan hormon, bahkan kerusakan jaringan tubuh.
Selain risiko kesehatan manusia, ada juga risiko lingkungan: air hujan yang mengandung mikroplastik bisa mencemari sumber air permukaan, sungai, laut, dan akhirnya masuk ke rantai makanan.
Tanggapan Pemerintah
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (DLH DKI) menyatakan bahwa temuan ini menjadi alarm lingkungan: polusi plastik tak lagi “hanya” di laut atau daratan, tetapi telah sampai di atmosfer.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama BRIN akan memperkuat pemantauan kualitas udara dan air hujan melalui platform integrasi data lingkungan bernama Jakarta Environmental Data Integration (JEDI).
Selain itu, implementasi teknologi filtrasi udara dan air hujan mulai dikaji sebagai solusi penanggulangan mikroplastik atmosfer.
Dukungan dari tingkat nasional juga muncul. Hanif Faisol Nurofiq selaku Menteri Lingkungan Hidup menekankan bahwa temuan ini memperlihatkan perlunya tindakan lebih serius terhadap pengelolaan sampah plastik dan praktek pembuangan terbuka.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Hindari penggunaan plastik sekali pakai dan bahan berbasis plastik yang sulit terurai.
Daur ulang plastik dengan benar, dan hindari pembakaran sampah plastik sembarangan.
Pilih pakaian yang berbahan alami atau setidak-nya minim pelepasan serat sintetis, karena salah satu sumber mikroplastik adalah serat pakaian sintet.
Dukung kebijakan dan program pengelolaan limbah plastik di tingkat rumah tangga maupun komunitas.
Untuk instansi: melakukan filtrasi pada sistem air hujan dan udara, serta meningkatkan pemantauan kualitas air dan udara secara rutin.
Kesimpulan
Temuan bahwa hujan di Jakarta mengandung mikroplastik menandakan bahwa “lingkungan tak lagi terbatas di daratan, laut, atau udara terbuka saja” — langit pun telah menjadi bagian dari siklus polusi plastik. Kini menjadi penting tidak hanya bagi pemerintah dan riset, tetapi juga bagi masyarakat umum untuk sadar bahwa perbuatan sehari-hari (penggunaan plastik, pembuangan limbah, pembakaran sampah) punya dampak yang sangat luas dan tak terlihat.














