KLIKFAKTA38 – Jakarta, 21 November 2025 — Limbah minyak goreng bekas (jelantah) dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini berubah status menjadi komoditas ekspor yang sangat bernilai. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyatakan bahwa minyak jelantah terkumpul dari ribuan dapur MBG ditampung dan diekspor, salah satunya ke maskapai Singapore Airlines, dengan harga jual yang disebut “dua kali lipat.”
Dari Dapur SPPG ke Tangki Pesawat
Menurut Dadan, minyak jelantah MBG dikumpulkan secara sistematis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. “Jelantahnya tidak dibuang, ditampung oleh para entrepreneur dan kemudian diekspor … karena salah satu penggunanya adalah Singapore Airlines,” ujarnya dalam pidato di Konferensi Pembangunan Berkelanjutan.
Data BGN per November 2025 menunjukkan bahwa sudah ada 15.363 SPPG yang beroperasi di 38 provinsi, melayani total 44,3 juta penerima manfaat. Jika program diperluas hingga 30.000 SPPG, potensi pasokan minyak jelantah bisa menembus jutaan liter per bulan.
Setiap SPPG rata-rata memakai 800 liter minyak goreng per bulan, dan sekitar 70 persen atau sekitar 550 liter menjadi jelantah.
Komitmen Lingkungan Maskapai
Singapore Airlines menjadi salah satu pembeli bioavtur dari jelantah MBG sebagai bagian dari misi “ramah lingkungan”. Dadan menyebut bahwa maskapai tersebut menargetkan 1 persen avtur berbahan bio dalam bahan bakarnya, di mana jelantah menjadi salah satu bahan baku bioavtur.
Langkah ini sejalan dengan tren global untuk penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF), karena maskapai penerbangan dihadapkan pada tekanan untuk mengurangi emisi karbon.
Nilai Ekonomi Jelantah Melonjak
Karena permintaan internasional, terutama dari maskapai seperti Singapore Airlines, harga jelantah MBG naik hingga dua kali lipat dibanding harga lokal biasa.
Peningkatan harga ini menciptakan rantai ekonomi baru: minyak bekas yang dulu dianggap limbah kini bisa menjadi sumber pendapatan bagi para pengumpul dan pelaku usaha skala lokal, serta membuka potensi ekspor signifikan.
Tantangan & Potensi
Meskipun cerah dari sisi keberlanjutan dan ekonomi, ada tantangan besar:
Pasokan: Agar bioavtur berbahan jelantah bisa terus diproduksi, diperlukan pasokan minyak jelantah yang konsisten dan jumlahnya besar.
Harga tinggi: Karena bioavtur lebih mahal, maskapai bisa menghadapi peningkatan biaya operasional, yang bisa berimbas ke harga tiket.
Infrastruktur pengumpulan: Agar jelantah bisa dikumpulkan secara luas, butuh titik pengumpulan yang tersebar dan manajemen logistik yang baik.
Regulasi: Pemerintah Indonesia menargetkan penerapan minimal 1 % SAF pada penerbangan internasional pada 2027.
Di sisi lain, Pertamina sebagai pemain dalam bioavtur di Indonesia sudah berinvestasi serius. Mereka menargetkan mengumpulkan hingga 1,5 juta ton jelantah per tahun pada 2030 untuk diolah menjadi SAF.
Dampak Sosial & Lingkungan
Secara lingkungan, pemanfaatan jelantah mengurangi limbah sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih ramah karbon.
Secara sosial, warga yang biasanya membuang jelantah bisa mendapat penghasilan tambahan dari menjual minyak bekasnya.
Namun, jika harga bioavtur tinggi dan maskapai terlalu membebankan biaya ke konsumen, harga tiket bisa naik dan menekan daya beli masyarakat.
Kesimpulan
Perubahan paradigma jelantah MBG dari “limbah dapur” menjadi “komoditas ekspor bioavtur” menunjukkan potensi besar ekonomi hijau Indonesia. Dengan Singapore Airlines sebagai pembeli utama, nilai minyak bekas meningkat pesat. Tapi, agar transformasi ini berkelanjutan, tantangan seperti pasokan, harga, dan infrastruktur harus dikelola dengan baik. Ke depan, bioavtur berbahan jelantah bisa menjadi salah satu pilar transisi energi nasional — asalkan skala produksi dan rantai pasok diperkuat.














