KUPANG – Penjabat (Pj) Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan pernyataan menukik terkait tragedi kematian seorang siswa di Kabupaten Ngada yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Dalam keterangan resminya, Gubernur menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan sebuah kegagalan sistemik yang memalukan.
“Kematian anak kita di Ngada adalah tamparan keras bagi wajah kemanusiaan kita semua. Ini bukan hanya duka bagi keluarga, tapi bukti nyata dari kegagalan sistem pendidikan dan perlindungan anak yang kita bangga-banggakan,” tegas Gubernur saat ditemui di Gedung Sasando, Kupang.
Kegagalan Sistem yang Berulang
Gubernur menyoroti bahwa insiden ini mencerminkan lemahnya pengawasan di tingkat akar rumput. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk bertumbuh, bukan justru menjadi tempat di mana nyawa mereka terancam akibat kelalaian atau lingkungan yang tidak kondusif.
Beberapa poin kritis yang disampaikan Gubernur antara lain:
Lemahnya Pengawasan: Kurangnya monitoring berkala terhadap kondisi psikologis dan keamanan fisik siswa di lingkungan sekolah.
Respons yang Lambat: Adanya indikasi keterlambatan penanganan saat gejala masalah pertama kali muncul.
Tanggung Jawab Kolektif: Gubernur meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta instansi terkait untuk tidak saling melempar tanggung jawab.
“Saya tidak mau mendengar alasan administratif. Ketika satu nyawa siswa hilang karena ketidaksiapan sistem kita, maka kita semua telah gagal menjalankan amanat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa,” tambah Gubernur dengan nada bicara yang berat.
Baca juga : ‘Gantengisasi’ ala Prabowo: Lebih dari Sekadar Estetika Atap Rumah
Langkah Tegas dan Investigasi Menyeluruh
Sebagai tindak lanjut, Gubernur telah memerintahkan tim khusus untuk turun ke Kabupaten Ngada guna melakukan investigasi menyeluruh. Ia memastikan akan ada sanksi tegas bagi pihak-pihak yang terbukti lalai dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) perlindungan siswa.
Pemerintah Provinsi juga berencana merombak kurikulum pembinaan karakter dan penguatan fungsi bimbingan konseling di seluruh sekolah di NTT guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.













