KLIKFAKTA38 – Jakarta, 6 Desember 2025 — Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, melontarkan kecaman keras terhadap aktivitas industri kayu di Sumatra usai banjir bandang dan longsor yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan kerusakan lingkungan. Melalui unggahan di akun X-nya, Susi menegaskan bahwa jika pendapatan negara dari industri penebangan kayu tidak seimbang dengan kerugian rakyat dan lingkungan, maka operasinya harus segera dihentikan.
Kronologi & Sorotan Terbaru
Pada Sabtu malam, 29 November 2025, sejumlah truk besar pengangkut kayu terpantau masih beroperasi di kawasan Parapat, Sumatera Utara, meskipun daerah tersebut tengah dalam masa tanggap darurat bencana. Hal ini yang kemudian memicu reaksi Susi melalui media sosial.
Susi mempertanyakan berapa besar pendapatan negara yang diraup dari industri kayu di wilayah-wilayah seperti itu, dan menyerukan agar pemerintah meninjau ulang izin serta kontribusi pendapatan versus dampak ekologis.
Dia menegaskan bahwa harga “kayu” saat ini adalah nyawa rakyat — ungkapan keras yang menekankan bahwa keuntungan industri tak boleh mengorbankan keselamatan dan lingkungan masyarakat. (Ungkapan ini diinterpretasikan dari nada kritik Susi terhadap ketidakseimbangan antara keuntungan dan kerugian publik.)
Reaksi Pemerintah & Tindakan Hukum
Pemerintah — melalui pejabat terkait — akhirnya mengakui bahwa kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar memperparah banjir di Sumatra.
Polri, dipimpin oleh Listyo Sigit Prabowo, sudah membuka penyelidikan atas ribuan kayu gelondongan yang terbawa banjir. Penyelidikan ini dipandang sebagai langkah cepat untuk mengusut asal-usul kayu dan potensi pelanggaran hukum.
Di tingkat legislatif dan masyarakat sipil — misalnya melalui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) — ada seruan agar dilakukan evaluasi menyeluruh kebijakan tata ruang, izin hutan, dan pengelolaan sumber daya alam, agar tragedi ekologis tak kembali terulang.
Mengapa Seruan Susi Penting
Banjir dan longsor massal di Aceh, Sumut, dan Sumbar kali ini menyisakan duka sangat dalam — korban tewas dilaporkan hingga ratusan jiwa, dengan kerugian besar terhadap infrastruktur dan lingkungan.
Persebaran rekaman warga dan foto menunjukkan bahwa banyak kayu hanyut yang tampak seperti kayu hasil penebangan — bukan kayu alami dari pohon tumbang — sehingga memperkuat dugaan bahwa praktik tebang/hutan ilegal terjadi secara masif.
Seruan Susi menambah tekanan sosial-politik agar pemerintah tak hanya menangani dampak bencana secara darurat, tetapi juga meninjau ulang izin industri kayu, memperketat pengawasan hutan, dan menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku eksploitasi tanpa kontrol.














