‎Selat Hormuz Ditutup: Dua Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Teluk Persia

KLIKFAKTA38  – JAKARTA, 4 Maret 2026 – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran resmi menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional. PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker milik anak usahanya, PT Pertamina International Shipping (PIS), saat ini tertahan di kawasan Teluk Persia dan tidak dapat melanjutkan perjalanan keluar dari zona konflik tersebut.

‎Kronologi dan Kondisi Terkini

banner 325x300

‎Penutupan jalur nadi energi dunia ini dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyusul eskalasi serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Berdasarkan data per 3 Maret 2026, situasi di Selat Hormuz dilaporkan sangat berisiko setelah adanya insiden penembakan terhadap kapal yang nekat melintas.

‎Detail Informasi Keterangan

‎Status Kapal 2 Kapal Terjebak di Dalam Teluk, 2 Kapal di Luar Selat

‎Kondisi Awak Seluruh kru dilaporkan Selamat dan dalam pengawasan ketat

‎Lokasi Tertahan Perairan Teluk Persia (Sisi Dalam Selat Hormuz)

‎Penyebab Utama Penutupan

Keselamatan dan Mitigasi

Baca juga: Satgas PKH Tindak Tegas Tambang Ilegal di Malut: Gubernur Sherly dan David Glen Terseret

‎Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah keselamatan para awak kapal. Pertamina terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta perwakilan Indonesia di Abu Dhabi dan Dubai.

 

‎”Kami memastikan bahwa meskipun kapal tertahan, seluruh awak dalam kondisi aman. Kami terus memantau posisi kapal secara real-time melalui sistem pelacakan canggih dan berkomunikasi dengan otoritas terkait untuk langkah evakuasi jika diperlukan,” ujar Baron dalam keterangan resminya.

 

Dampak terhadap Pasokan Energi Nasional

‎Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi sekitar 25% impor minyak mentah Indonesia memicu kekhawatiran akan stabilitas stok BBM nasional. Menanggapi hal ini, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mengaktifkan skema darurat:

‎Diversifikasi Pasokan: Indonesia mulai meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat dan wilayah non-Timur Tengah lainnya.

‎Optimalisasi Stok: Stok BBM nasional dilaporkan masih dalam level aman untuk 20 hari ke depan.

‎Penyaluran Alternatif: Pertamina menyiapkan skema distribusi reguler dan darurat guna menjaga ketahanan energi di dalam negeri dari potensi lonjakan harga global.

‎Hingga berita ini diturunkan, harga minyak mentah dunia telah menembus angka USD 97 per barel akibat kepanikan pasar. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang sementara pemerintah terus mengupayakan jalur diplomasi guna memastikan keamanan aset dan warga negara Indonesia di area konflik.

 

Penulis: Abduh Hanif MREditor: Hengki Revandi