Evaluasi Penanganan Stunting di Lombok Barat Wakil Bupati Kumpulkan Kepala Puskesmas se-Lombok Barat

Klik Fakta38 – Wakil Bupati Lombok Barat selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lombok Barat mengumpulkan seluruh Kepala Puskesmas (Kapus) se-Kabupaten Lombok Barat dalam agenda evaluasi tatalaksana stunting. Bertempat di ruang rapat Kantor Wakil Bupati Lombok Barat, Senin, (27 April 2026)

Pertemuan strategis ini difokuskan pada evaluasi efektivitas pemberian susu dan inovasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta penguatan intervensi sensitif di tingkat akar paling bawah

banner 325x300

Baca Juga:Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: 4 Tewas dan 38 Penumpang Luka-Luka ‎

Dalam arahannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh Kepala Puskesmas atas dedikasinya dalam melakukan pendampingan, skrining, hingga distribusi susu pendamping bagi anak-anak terindikasi stunting.

Berdasarkan data lapangan, tingkat ketaatan anak-anak dalam mengkonsumsi susu bantuan tersebut mencapai angka yang menggembirakan, yakni di atas 80 persen.

Namun, Wabup memberikan catatan kritis terkait korelasi antara ketaatan konsumsi dengan angka kesembuhan.

“Dari 80 persen ketaatan itu, memang pertumbuhan fisiknya membaik. Namun, angka anak yang benar-benar keluar dari status stunting baru mencapai 15 persen, belum menyentuh 20 persen. Keberhasilan pemberian susu selama tiga bulan ini memang tetap kita anggap berhasil meski di bawah 20 persen, tapi kita butuh lompatan yang lebih besar,” ujar Wakil Bupati.

Baca Juga:Diduga Salah Paham Usai Tegur Penumpang, Anggota TNI Dikeroyok Massa di Stasiun Depok

Untuk memaksimalkan hasil tersebut, Pemerintah Kabupaten juga telah melibatkan dokter spesialis agar tatalaksana medis dan target penurunan bisa dicapai secara lebih progresif.

Wakil Bupati menyoroti anomali data agregat stunting. Tercatat penurunan angka stunting pada tahun 2024 dan proyeksi 2025 hanya berkisar di angka 1 persen. Hal ini memicu pertanyaan serius, mengingat pada tahun 2024 intervensi belum menggunakan susu Formula (masih menggunakan telur), sementara tahun ini intervensi susu yang secara medis lebih baik untuk otak dan pertumbuhan fisik sudah dilakukan secara masif.