Opini  

Budaya Komentar di Media Sosial Antara Kebebasan Berbicara dan Krisis Nalar Sehat

Budaya Komentar di Era Algoritma Menjaga Kebebasan Berbicara Tanpa Kehilangan Etika dan Nalar Sehat

Ilustrasi Budaya komentar di media sosial Generated AI

Apabila kita perhatikan unggahan apa saja di media sosial hari ini, entah itu berita politik, video kucing lucu, atau foto liburan seorang teman. Dalam hitungan menit, kolom komentar akan dipenuhi respons dari orang-orang yang bahkan tidak saling kenal.

Sebagian memberi pujian tulus, sebagian bertanya dengan sopan, tapi tidak sedikit pula yang melempar cibiran, sindiran tajam, bahkan hujatan yang sama sekali tidak proporsional dengan konten yang dikomentari.

banner 325x300

Fenomena ini bukan sekadar bumbu media sosial, melainkan sudah menjelma menjadi budaya tersendiri, budaya komentar, yang membentuk cara kita bicara, berpendapat, dan bahkan cara kita memandang orang lain di ruang digital.

Kita melihat budaya ini sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi ia adalah wujud demokratisasi suara, siapa pun kini bisa bicara tanpa perlu mikrofon atau kolom opini di media besar.

Namun di sisi lain, kemudahan ini pula yang membuat kolom komentar berubah menjadi arena yang kadang lebih mirip pertarungan ego ketimbang ruang bertukar pikiran yang sehat.

Ruang Bebas Bicara: Ketika Setiap Orang Merasa Berhak Berkomentar

Media sosial memang dirancang untuk membuat setiap orang merasa suaranya penting. Fitur kolom komentar, tombol suka, dan berbagi ulang menciptakan ilusi bahwa opini kita, sekecil apa pun, punya bobot yang sama dengan opini siapa pun.

Hal ini sejalan dengan temuan peneliti Shelley Boulianne, yang menemukan bahwa keterlibatan warga lewat aktivitas di media sosial, termasuk mengomentari dan merespons unggahan organisasi maupun sesama warga, dapat mendorong munculnya bentuk-bentuk baru partisipasi sipil.

Sejalan dengan itu, Yannis Theocharis bersama Boulianne, Koc-Michalska, dan Bimber  juga menegaskan bahwa setiap platform media sosial punya cara berbeda dalam membentuk pola keterlibatan penggunanya, sehingga komentar dan reaksi cepat yang muncul di dalamnya bisa menjadi jalan bagi orang biasa untuk merasa dilibatkan langsung dalam percakapan publik yang sebelumnya hanya bisa mereka saksikan dari kejauhan.

Fenomena ini sesungguhnya positif jika dilihat dari kacamata demokrasi digital. Warga biasa bisa mengkritik kebijakan pemerintah, memberi masukan pada brand, atau sekadar menyuarakan keresahan sosial tanpa harus menunggu diundang wawancara oleh media arus utama.

Tapi persoalannya, kebebasan ini jarang dibarengi dengan kesadaran akan tanggung jawab. Banyak orang berkomentar bukan untuk menyampaikan gagasan, melainkan sekadar untuk didengar, atau lebih buruk lagi, untuk menyerang.

Ketika Kolom Komentar Berubah Jadi Medan Perang

Di titik inilah budaya komentar mulai kehilangan arah. Marlene Bormann bersama Ulrike Tranow, Gerhard Vowe, dan Marc Ziegele  menawarkan kerangka berpikir yang berguna untuk memahami mengapa nada bicara di kolom komentar bisa begitu keras.

Mereka membedakan antara komentar yang sekadar “tidak sopan” karena melanggar norma kesantunan biasa, dengan komentar yang benar-benar bersifat intoleran karena menyerang identitas atau kelompok tertentu.

Dalam kerangka yang mereka susun, ketidaksopanan dipandang sebagai pelanggaran terhadap ekspektasi normatif dalam komunikasi publik, sesuatu yang sebenarnya wajar terjadi dalam perdebatan yang emosional, namun tetap berbeda tingkat bahayanya dibanding ujaran yang secara sengaja merendahkan martabat orang lain.

Menariknya, kajian Patrícia Rossini, sebagaimana diulas kembali oleh Rossella Rega, Rita Marchetti, dan Anna Stanziano, menunjukkan bahwa komentar yang benar-benar mengandung intoleransi sesungguhnya jumlahnya tidak sebanyak yang kita bayangkan, ia lebih sering muncul pada isu-isu sensitif dan cenderung terkonsentrasi pada kelompok dengan pandangan yang sudah ekstrem sejak awal.

Artinya, sebagian besar kegaduhan di kolom komentar sebenarnya adalah luapan emosi dan gesekan kepentingan, bukan kebencian terstruktur. Namun tetap saja, luapan itu punya dampak nyata: ia bisa membuat orang lain enggan berpartisipasi, memicu kelelahan emosional, bahkan menciptakan rasa tidak aman bagi kelompok yang lebih rentan menjadi sasaran.

Yang membuat kita prihatin, algoritma media sosial justru cenderung memberi panggung lebih besar pada komentar yang provokatif, sebab konten semacam itu memancing interaksi lebih banyak. Alhasil, suara-suara yang santun dan reflektif kerap tenggelam, sementara komentar bernada panas justru naik ke permukaan dan dianggap mewakili opini mayoritas, padahal belum tentu demikian.

Merawat Nalar Mencari Jalan Tengah dalam Budaya Berkomentar

Lalu, apakah kita harus pesimis dengan budaya komentar ini? tidak sepenuhnya. Sebagaimana disinggung Boulianne  di atas, keterlibatan lewat kolom komentar justru dapat menumbuhkan bentuk-bentuk baru keterlibatan warga dan bahkan mendorong tindakan nyata di dunia offline, mulai dari petisi daring hingga gerakan sosial yang lahir dari diskusi di media sosial. Dengan kata lain, kolom komentar bisa menjadi pintu masuk partisipasi publik, asal dikelola dengan lebih bijak, baik oleh platform, moderator, maupun oleh kita sebagai penggunanya.

Jalan tengah yang paling realistis adalah literasi digital yang menyasar bukan hanya kemampuan mengenali hoaks, tapi juga kemampuan mengenali nada bicara kita sendiri.

Sebelum menekan tombol kirim, ada baiknya kita bertanya, apakah komentar ini menambah nilai pada percakapan, atau hanya melampiaskan emosi sesaat? Platform media sosial pun punya tanggung jawab yang sama besarnya, misalnya dengan merancang fitur moderasi yang tidak hanya menghapus komentar buruk, tapi juga mendorong munculnya komentar yang membangun.

Pada akhirnya, budaya komentar di media sosial adalah cerminan dari budaya bicara kita sebagai masyarakat secara umum. Ia hanya memperbesar apa yang sudah ada, baik itu empati maupun amarah.

Menjaga kolom komentar tetap sehat bukan berarti membungkam kritik atau perbedaan pendapat, melainkan memastikan bahwa ruang bebas bicara itu tidak berubah menjadi ruang yang justru membuat orang takut untuk bicara.

Bagi media massa, kolom komentar bukan sekadar ruang interaksi, tetapi juga bagian dari ekosistem informasi yang memengaruhi kualitas diskusi publik. Karena itu, media tidak hanya dituntut menghadirkan berita yang akurat, tetapi juga menciptakan ruang dialog yang sehat melalui moderasi yang proporsional, kebijakan komunitas yang jelas, dan edukasi literasi digital kepada pembacanya.