KLIKFAkTA38 – Jakarta, 8 Mei 2025 – Perekonomian Indonesia menghadapi situasi genting setelah mencatat pertumbuhan sebesar 4,87% pada kuartal I 2025 secara tahunan (year-on-year), angka terendah sejak kuartal III 2021. Capaian ini tidak hanya meleset dari target pemerintah sebesar 5,2%, tetapi juga mencerminkan masalah struktural yang belum terselesaikan.
Konsumsi dan Investasi Melemah
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti bahwa pelemahan konsumsi rumah tangga dan stagnasi investasi menjadi indikator utama kegentingan ekonomi. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,89%, terendah dalam lima kuartal terakhir, meskipun berada di periode Ramadan yang biasanya mendorong belanja masyarakat. Sementara itu, investasi mengalami pertumbuhan paling lambat dalam dua tahun terakhir, dan belanja pemerintah justru mengalami kontraksi akibat efisiensi anggaran sebesar Rp300 triliun.
Kegagalan Transformasi Struktural
INDEF juga menilai bahwa perlambatan ini bukan semata akibat faktor eksternal seperti ketegangan dagang global, tetapi lebih pada kegagalan domestik dalam melakukan transformasi struktural. Program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah belum mampu menjadi mesin pertumbuhan baru, dengan sektor manufaktur dan pertambangan mengalami stagnasi. Pertumbuhan tinggi di sektor pertanian yang bersifat musiman tidak cukup untuk menutupi kelemahan sektor-sektor strategis lainnya.
Kelas Menengah Tertekan
Kelas menengah, yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik, mengalami tekanan hebat. Daya beli menurun, utang meningkat, dan ketimpangan ekonomi melebar. Menurut data, proporsi kelas menengah Indonesia menyusut dari 21,5% pada 2019 menjadi 17,1% pada 2024. Fenomena ini berdampak langsung pada penurunan konsumsi dan penerimaan pajak negara.
Kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan fiskal pemerintah menyebabkan pasar keuangan bergejolak. Pada Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7% dalam satu sesi perdagangan, memicu penghentian sementara perdagangan saham. Penurunan ini mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan pemerintah.
Tantangan pemerintah
Pemerintah menghadapi tantangan besar untuk membalikkan tren perlambatan ini. Upaya untuk mencapai pertumbuhan 8% pada 2029, seperti yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto, memerlukan reformasi struktural yang mendalam, termasuk peningkatan produktivitas sektor manufaktur, penguatan kelas menengah, dan stabilitas fiskal. Tanpa langkah-langkah konkret dan berani, risiko stagnasi ekonomi jangka panjang semakin nyata.











