Jurnalisme Bukan Sekadar Profesi, Tapi Pengabdian Nurani

Penulis: Hengki Revandi, Wakil Pemimpin Redaksi dan Ketua Dewan Redaksi  Media Warta Sasambo & Klikfakta38

KLIKFAKTA38 — Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya hoaks yang beredar di media sosial, peran jurnalis kian vital. Namun, jurnalisme sejati bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan pengabdian nurani yang menuntut integritas, keberanian, dan dedikasi terhadap kebenaran.

banner 325x300

Hal itu disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Rendra Aditama, dalam diskusi publik bertajuk “Jurnalisme dan Tantangan Etika di Era AI”, yang digelar di Gedung Dewan Pers, Selasa (17/6). “Menjadi jurnalis bukan hanya soal bekerja menulis berita. Ini soal menjaga demokrasi, menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar, dan terus berpegang pada kode etik meski dihadapkan pada tekanan dan risiko,” ujar Rendra.

Ia menekankan bahwa dalam situasi di mana algoritma dan kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak fungsi teknis, nilai-nilai kemanusiaan dalam jurnalisme menjadi pembeda utama. “AI bisa menyusun berita, tapi ia tak punya nurani. Jurnalis sejati berpihak pada kebenaran, bukan pada kekuasaan atau popularitas,” tambahnya.

Pandangan serupa diungkapkan oleh Lestari Andayani, jurnalis senior yang pernah meliput konflik di Papua dan bencana di NTT. “Tak jarang kami meliput dengan risiko keselamatan, tapi kami tetap turun karena kami tahu: publik berhak tahu fakta yang sebenarnya,” tegas Lestari.

Diskusi yang juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan terhadap jurnalis yang kerap menjadi sasaran intimidasi, serta urgensi membangun ekosistem media yang sehat, merdeka, dan bertanggung jawab.

Di era informasi yang serba cepat ini, jurnalisme bukan hanya soal kecepatan, tetapi tentang keberanian menyuarakan kebenaran — dan itu tak bisa dibeli atau digantikan oleh teknologi.

Penulis: Hengki RevandiEditor: Hengki Revandi, Tim Wartawan