RI Mulai Langkah Serius Bangun PLTN, Sumatera dan Kalimantan Jadi Lokasi Perdana

“Pemerintah targetkan PLTN pertama beroperasi pada 2033, dorong diversifikasi energi nasional”

KlikFakta38 –  Jakarta, Pemerintah Indonesia resmi menetapkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025–2034. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam transformasi energi nasional menuju sumber energi rendah emisi karbon.

Dalam dokumen RUPTL tersebut, dua wilayah ditetapkan sebagai lokasi awal pembangunan PLTN, yakni Sumatera dan Kalimantan. Total kapasitas yang direncanakan mencapai 500 Megawatt (MW), terbagi masing-masing 250 MW di setiap wilayah.

banner 325x300

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman P. Hutajulu, menyampaikan bahwa meski lokasi pasti belum ditentukan, pembangkit akan dibangun di dalam sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan. Beberapa wilayah potensial yang disebut antara lain Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.

“Nuklir itu sebesar 250 MW, 2 unit. Di RUPTL kami sudah menentukan di sistemnya, bukan lokasi spesifik. Jadi bisa saja di sekitar Sumatera Utara, dekat-dekat Kepri, atau Bangka Belitung dan Kalimantan Barat,” ujar Jisman dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (30/6/2025).

Target operasional PLTN tersebut dijadwalkan antara tahun 2032 hingga 2033. Sebagai bentuk keseriusan, Kementerian ESDM sedang mempersiapkan pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO), atau Organisasi Pelaksana Program Energi Nuklir, yang akan menjadi garda depan dalam realisasi proyek strategis ini.

Selain nuklir, pemerintah juga terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan lainnya. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung seperti yang telah dibangun di Cirata, Jawa Barat, menjadi model yang akan direplikasi di berbagai wilayah.

Pembangkit panas bumi juga akan diperluas, khususnya di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Nusa Tenggara, mengingat potensi geotermal Indonesia yang sangat besar.

Jisman juga mengungkap temuan baru potensi energi bayu (angin) yang cukup menjanjikan, khususnya di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Penelitian menunjukkan bahwa pada ketinggian 140 meter, potensi angin di kawasan tersebut sangat besar dan layak dikembangkan secara komersial.

“Potensi bayu, baik onshore maupun offshore, ditemukan di utara dan selatan Jawa, Kalimantan Selatan, serta Sulawesi Selatan. Ada penemuan baru dari satu negara bahwa pantai utara Jawa punya potensi bayu besar, dan dalam RUPTL potensi hingga 7 GW akan diarahkan ke sana,” tutupnya.

Langkah ambisius ini menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam transisi energi dan pengurangan emisi karbon, sekaligus membuka babak baru pemanfaatan teknologi tinggi dalam penyediaan listrik nasional.