KLIKFAKTA38 – SANAA / DOHA – Serangan udara yang dilancarkan Militer Israel terhadap ibu kota Yaman, Sana’a, menyusul sehari setelah serangan ke Doha, Qatar, telah memicu kecaman internasional sekaligus memperdalam krisis keamanan di Timur Tengah.
Kronologi
9 September 2025: Israel melakukan serangan udara ke Doha, Qatar, menargetkan lokasi yang diklaim sebagai markas pemimpin senior Hamas. Dalam serangan ini, Israel menyebut Hamas sebagai target karena keterlibatannya dalam serangan 7 Oktober 2023.
10 September 2025: Keesokan harinya, Israel dilaporkan melancarkan serangan udara ke Sana’a, ibu kota Yaman, serta provinsi al-Jawf. Serangan ini menumbangkan korban jiwa dan luka, terutama di area sipil dan fasilitas publik.
Dampak & Korban
Kementerian Kesehatan Yaman melaporkan sedikitnya 35 orang tewas dan 131 orang luka-luka akibat serangan di Sana’a dan al-Jawf. Angka ini menjadi lebih tinggi bila dihitung semua korban setelah proses evakuasi dan temuan lokasi yang terdampak.
Sasaran serangan antara lain meliputi fasilitas medis, kompleks pemerintahan, dan pemukiman warga. Di Sana’a, lokasi di Jalan ke-60 dan area pemukiman serta fasilitas publik terdampak. Di al-Jawf, kompleks pemerintahan di al-Hazm menjadi salah satu sasaran.
Pernyataan Pihak Terkait
Israel menyatakan bahwa serangan ke Doha adalah serangan “tepat sasaran” terhadap struktur Hamas. Mereka menegaskan bahwa target mereka bukan negara-negara Arab, melainkan organisasi yang dianggap teroris.
Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, juga memperingatkan bahwa Israel akan melancarkan serangan terhadap musuh “di mana pun mereka berada”.
Hamas mengecam serangan ke Doha sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terang-terangan terhadap warga sipil.
Pemerintah Qatar mengutuk keras serangan ke wilayahnya, menyebutnya pelanggaran terhadap kedaulatan.
Konteks dan Analisis
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi berkepanjangan antara Israel dan kelompok Houthi di Yaman. Houthis telah melancarkan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel serta melancarkan aksi-aksi di wilayah laut (Red Sea) sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, khususnya Gaza.
Israel memandang Houthis sebagai bagian dari jaringan pendukung Hamas dan sebagai ancaman langsung. Oleh karena itu, sasaran militer di daerah Yaman dianggap sah oleh Israel menurut narasi mereka. Namun, serangan yang mengenai area sipil memicu kritik kuat internasional.
Secara diplomatik, serangan ke Doha memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Teluk dan memicu kekhawatiran akan destabilisasi lebih lanjut di kawasan.
Pertanyaan Masih Terbuka
Sejauh ini belum ada konfirmasi resmi lengkap dari pihak Israel mengenai target spesifik di Sana’a, terutama seberapa besar proporsi korban sipil vs militer.
Efek jangka panjang terhadap akses bantuan kemanusiaan di Yaman, yang sudah sangat rentan karena konflik yang berlangsung lama, masih belum diprediksi.
Bagaimana negara-negara internasional dan organisasi PBB akan merespons langkah-langkah Israel dari sisi hukum dan diplomatik.
Kesimpulan
Serangan Israel di Sana’a, sesudah melancarkan serangan di Doha, menunjukkan eskalasi agresif dalam konflik Timur Tengah yang melibatkan unsur-sejumlah aktor non-negara seperti Hamas dan Houthi. Dampaknya tidak hanya militer tetapi juga manusiawi dan diplomatik, dengan warga sipil mengalami penderitaan dan negara-negara tetangga mengutuk keras tindakan tersebut. Ke depan, aksi ini bisa memicu reaksi lebih luas—baik di lapangan maupun internasional—termasuk kemungkinan sanksi atau intervensi diplomatik













