Cina Luncurkan Kapal Induk Drone, Mampu Luncurkan 100 Drone Kamikaze Sekaligus

KLIKFAKTA38 – Beijing, 30 Mei 2025 — Cina kembali menunjukkan kemajuan pesat dalam teknologi militer dengan meluncurkan kapal induk drone pertama di dunia yang mampu mengerahkan hingga 100 drone kamikaze secara simultan. Langkah ini menandai babak baru dalam strategi perang tak berawak dan meningkatkan kekhawatiran di kawasan Indo-Pasifik.

Menurut laporan media pemerintah dan citra satelit yang dikonfirmasi oleh analis pertahanan independen, kapal induk tak berawak ini telah resmi bergabung dalam armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy). Kapal tersebut diberi nama Zhu Hai Yun II, versi terbaru dari kapal riset otonom sebelumnya, namun kini dimodifikasi untuk keperluan militer.

banner 325x300

Kapal yang dilengkapi dengan sistem peluncur vertikal otomatis dan dek yang mampu menampung serta meluncurkan hingga 100 drone kamikaze dalam satu misi. Drone-drone tersebut didesain untuk menyerang target dengan presisi tinggi menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan sistem navigasi otonom.

Analis militer memperingatkan bahwa peluncuran kapal ini memperkuat kemampuan “saturation attack” atau serangan jenuh, di mana banyak drone menyerbu target secara bersamaan, membingungkan sistem pertahanan lawan.

“Ini bukan hanya demonstrasi kekuatan teknologi, tapi juga sinyal strategis bahwa Cina serius dalam mendominasi peperangan generasi berikutnya,” kata Dr. Michael Chan, pakar militer Asia Timur dari Singapore Institute of Defence and Strategic Stucture.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di antara negara-negara tetangga, terutama di Laut Cina Selatan yang masih menjadi titik panas sengketa teritorial. Jepang, Taiwan, dan Filipina menyatakan akan memantau perkembangansecara ketat dan menyerukan transparansi dari Beijing.

Hingga saat ini, pemerintah Cina belum memberikan pernyataan resmi tentang tujuan operasional kapal tersebut, namun menyebutnya sebagai “kapal eksperimen untuk pengujian sistem tak berawak maritim terpadu.

“Para pengamat menilai, meski kapal ini belum dikerahkan dalam situasi konflik nyata, keberadaannya mengisyaratkan perubahan paradigma dalam konflik maritim—dari perang berbasis kapal besar ke sistem swarm tak berawak yang mematikan.

Penulis: Yuyun Iriyanti Editor: Hengki Revandi